SNOW


TUD'S EDUCATION
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH DAN SISTEM PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH DAN SISTEM PSIKOLOGI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2011

NLP


Sejarah NLP
            Pada awal tahun 1970-an, Richard Bandler, seorang mahasiswa matematika Universitas California Santa Cruz menemukan bahwa jika kita secara lengkap mengulangi pola-pola tingkah laku pribadi seseorang dapat menbuahkan hasil-hasil yang positif yang mirip dengan orang tersebut. Penemuan ini menjadi dasar bagi pendekatan pertama NLP.
            Kemudian ia berjumpa dengan pendiri NLP lainnya, rektor John Grinder yang memiliki kemampuan cepat menyerap bahasa, memperkirakan aksen dan tingkah laku kultural yang telah disempurnakan ketika bergabung dengan pasukan khusus angkatan darat bersenjata AS. Minat John sepadan dengan tujuan linguistic untuk menyingkatkan tata bahasa yang tersembunyi dari pikiran dan tindakan. Akhirnya mereka bersama-sama melakukan penelitian dengan mengkombinasikan pendekatan linguistik Grinder dan Programming Bandler.
            Bandler dan Grinder berusaha menemukan apa yang sebenarnya berfungsi untuk mencapai hasil positif untuk klien terapi, dengan cara menguji keterkaitan antara perilaku aktual si terapis dengan pemikiran dan perasaan klien. Untuk percobaan penelitian Richard Bandler memodel dirinya seperti Fritz Perls seorang psikiater Jerman sampai meniru menumbuhkan jenggot, merokok terus menerus dan berbicara bahasa Inggris beraksen Jerman. Grinder juga meniru menggunakan pola verbal- non verbal Perls.  
            Bandler dan Grinder mulai mempelajari orang-orang yang mengalami beragam kesulitan, mereka memperhatikan bahwa setiap orang memiliki pobia, justru memikirkan apa pun yang mereka takutkan seakan-akan hal itu sedang terjadi pada mereka saat itu. Ketika mereka mempelajari orang yang telah menghilangkan fobia, mereka menemukan masing-masing orang berpikir mengenai pengalaman fobia mereka seolah-olah sedang menyaksikan roller coaster dari kejauhan.
            Bandler dan Grinder memutuskan secara sistematis mengajar orang-orang yang mempunyai fobia untuk mengalami rasa takut mereka seolah-olah mereka sedang menyaksikan dari kejauhan. Perasaan fobia mereka lenyap dalam sekejap. Hal itulah yang mendasari NLP bagaimana orang berpikir mengenai sesuatu, menciptakan perbedaan penting dalam bagaimana mereka akan mengalaminya.
            Kemudian mereka bertemu dengan Dr. Wilton H. Ericson, ahli hipnotis terkemuka di dunia. Dr. Ericson adalah seorang anak muda di wilayah pertanian Winconsin yang menderita polio. Karena sulit bernafas ia berbaring di sebuah tabung respirator dalam dapur keluarga lebih dari 1 tahun. Ericson terpesona dengan tingkah laku manusia dan menghabiskan waktu memperhatikan keluarga dan teman-teman bereaksi satu sama lain, secara sadar dan tidak sadar. Setelah cukup sehat untuk meninggalkan tabung respiratornya, ia belajar berjalan dengan memperhatikan bagaimana adik perempuannya yang masih bayi belajar melakukannya. Ericson juga melakukan perjalanan lintas alam dengan kano sebelum kuliah dimana ia akhirnya berhasil memperoleh gelar kedokteran dan psikologi. Pengalaman-pengalaman penderitaan pribadinya telah membuatnya sensitif terhadap pengaruh bahasa dan tingkah laku halus. Ketika belajar kedokteran ia tertarik dengan hipnosis. Ia memperhatikan pemikiran dan perasaan yang melintas di pikiran pasiennya, mereka sejenak terhipnosis yang alamiah.
            Bandler dan Grinder bertemu dengan Ericson untuk menerapkan keahlian memodel mereka yang baru dikembangkan pada para ahli hipnosis berbakat. Kombinasi dari keahlian hipnosis Dr. Ericson dan keahlian memodel Bandler dan Grinder menjadi dasar penemuan teknik baru yaitu NLP.


2.2 Pengertian NLP
            Neuro-Linguistic Programming (NLP) adalah model komunikasi interpersonal dan merupakan pendekatan alternative terhadap psikoterapi yang didasarkan kepada pembelajaran subyektif mengenai bahasa, komunikasi, dan perubahan personal. NLP diawali pada sekitar tahun 1970-an oleh Richard Bandler dan John Grinder. Semula pembahasan lebih terpusat pada berbagai “hal beda yang dapat membuat perbedaan” antara individu “unggul” dengan individu “rata-rata”. Guna memahami lebih lanjut akan perbedaan tersebut, mereka melakukan serangkaian pemodelan pada berbagai aspek dari individu “unggul”, seperti berbagai perilaku dalam menerima serta menyikapi lingkungan sekitar. Hal itu berujung pada pemahaman mengenai mekanisme kerja pikiran. Sehingga NLP berisikan berbagai presuposisi mengenai mekanisme kerja pikiran dan berbagai cara individu dalam berinteraksi dengan lingkungan dan antar sesamanya, disertai dengan seperangkat metode untuk melakukan perubahan.
            Secara sistematik, Neuro dapat diartikan sebagai berbagai mekanisme yang dilakukan individu dalam menginterpretasikan informasi yang didapat melalui panca indra dan berbagai mekanisme pemprosesan selanjutnya di pikiran. Linguistic ditujukan untuk menjelaskan pengaruh bahasa yang digunakan pada diri maupun pada individu lain yang kemudian membentuk pengalaman individu akan lingkungan. Programming dapat diartikan sebagai berbagai mekanisme yang dapat dilakukan untuk melatih diri seorang individu (dan individu lain) dalam berpikir, bertindak dan berbicara dengan cara baru yang lebih positif. Walaupun pikiran individu telah memiliki program “alaminya”, yang didapat baik melaluipewarisan secara genatis maupun melalui berbagai pengalaman, individu tetap dapat melakukan peprogaraman ulang sehingga dapat bertindak lebih efektif.
            William James (dalam Andreas & Faulkner, 1998) mengatakan bahwa manusia akan dapat merubah aspek luar kehidupan mereka dengan cara mengubah sikap yang ada dalam pikiran mereka. Salah satu metode yang sangat efektif dan sudah terkenal untuk mengubah pola pikir yang negatif menjadi positif untuk pencapaian fungsi manusia yang optimal adalah Neuro Linguistic Programming (NLP).
            Neuro Lingustic Programming (NLP) merupakan salah satu cara yang membuat seseorang dapat mampu untuk memetakan semua proses yang terjadi di dalam otaknya (didasarkan pada pengalaman-pengalamannya) adalah dengan memprogram fungsi neuro-nya (otaknya) dengan menggunakan bahasa (linguis) yang disebut dengan Neuro-Linguistic Programming (NLP). Latihan-latihan NLP dalam prakteknya, memberikan berbagai perubahan pada aspek-aspek kehidupan luar seseorang, salah satunya adalah meningkatkan penghargaan dan penilaian terhadap diri sendiri (Andreas & Faulkner, 1998 : 14).
2.3 Konsep-konsep NLP
            Menurut Bandler (April 2003, http: //www.pureNLP.com), munculnya konsep-konsep dan teknik yang dikembangkan NLP didasarkan pada dua keyakinan awal, yaitu :
a)         Semua perilaku manusia memiliki struktur, dan struktur tersebur dapat dimodel (ditiru) dan dapat diubah (re-program)
b)        Suatu cara untuk mengetahui apa yang efektif dan berguna bagi manusia adalah melalui keterampilan perseptual.
2.4 Unsur-unsur NLP
            Reframing adalah membuat sudut pandang baru atas suatu pengalaman. Individu dapat merubah cara berpikir mengenai suatu hal dengn mengubah bahasa yang digunakan. Mengganti penyebutan dari “masalah” menjadi “tantangan” adalah salah satu contohnya. Hal itu tidak akan merubah situasi, namun dapat merubah cara bersikap sehingga setelahnya merubah cara dalam berperilaku.
            Individu lebih mudah mendapatkan solusi ketika merubah posisinya, karena perubahan posisi dapat merubah persepsi. Ketika individu berada pada suatu konflik, usahakan agar dpt memposisikan diripada individulain,membayangkan jalan pikirannya berkenaan dengan masalah tersebut. Sehingga, individu bersangkutan mendapatkan pemahaman baru.
            Model atas suatu pengalaman yang dibuat oleh individu tidak sama dengan pengalaman yang sebenarnya. Kerncuan model pada akhirnya mengarah pada kerancuan cara bertindak. Guna mencegah hal tersebut, individu perlu mendapatkan model presisi (precision modelling). Model presisi memungkinkan individu membentuk meta-model (meta = di atas, model atas model itu sendiri) sehingga individu mendapatkan model yang berbeda dari model yang sebelumnya. Hal ini memungkinkan individu untuk kemudian memilih model yang disukai diantara model yang tersedia. Pemodelan presisi mengidentifikasi berbagai cara khas dalam membatasi suatu pengalaman.
Beberapa contoh dari pemodelan presisi dapat diberikan sebagai berikut :
a.       Penghapusan (Deletions), contoh : saya tidak mengerti – Apa yang secara spesifik tidak Anda mengerti?
b.      Universal quantifiers (selalu, semua, setiap, dan lainnya), contoh : Setiap orang membenci saya—Setiap orang? Setiap orang di bumi?
c.       Comparative deletions, contoh : Saya ingin menjadi seorang yang lebih baik – Lebih baik dari apa?
            Juga penting bgi individu untuk benar-benar spesifik dalam menentukan tujuan. Gunakan kata-kata yang positif untukmenggambarkn secara spesifik berbagai hal yang diinginkan (dibandingkan dengan hal yng dihindari).   
2.5 Empat Pilar Utama NLP
NLP memiliki empat pilar utama. Adapun keempat pilar tersebut adalah:
1.      Hasil (Outcome)
Sebelum memulai suatu komunikasi, terlebih dahulu individu perlu mengenali hasil akhir yang diinginkan. Pemahaman sepenuhnya atas hasil yang ingin didapatkan sangat membantu proses pencapaian. Ketika individu benar-benar memahami hasil akhir dari komunikasi yang dilakukan, maka dirinya dapat dengan mudah mengarahkan seluruh komunikasi ke hasil akhir tersebut.     
2.      Rapport
Rapport merupakan inti dari komunikasi yang efektif. Salah satu cara untuk membantu rapport adalah dengan mengikuti (pacing) lawan bicara, contohnya dengan menyamakan bahasa tubuh, laju nafas dan lainnya. Hal ini didasari karena setiap individu hanya menyukai individu yang serupa.
3.      Akuitas Sensorik
Akuitas sensorik adalah kemampuan menggunakan panca indra untuk mengamati individu lain secara cermat tanpa asumsi apapun penilaian tertentu sebelumnya sehingga individu dapat memberikan respon dengan rapport yang maksimal. 
4.      Fleksibilitas
Guna mencapai hasil akhir yang diinginkan, individu membutuhkan fleksibilitas. Hal ini disebabkan karena terkadang metode komunikasi yang digunakan tidk bekerja sesuai yang diharapkan. Sehinnga, untuk tetap mencapai hasil akhir yang diinginkan, individu perlu mengganti strategi komunikasinya. Dengan memiliki fleksibilitas dalam komunikasi, kemungkinan mencapai hasil akhir semakin besar.
2.6 Presupposition dalam NLP
            Merupakan sikap-sikap dan prinsip-prinsip inti yang melandasi semua pendekatan dan teknik dalam NLP. Presupposition  tidak terbukti benar dank lien tidak harus percaya bahwa itu benar. Presupposition dalam NLP :
1.      Peta bukanlah wilayah sesungguhnya
2.      Pengalaman memiliki struktur
3.      Jika seseorang dapat melakukan sesuatu, siapapun dapat belajar melakukannya
4.      Pikiran dan tubuh adalah bagian-bagian dari sebuah sistem yang sama
5.      Manusia telah memiliki segala sumber daya yang mereka perlukan
6.      Anda tidak dapat tidak berkomunikasi
7.      Esensi dari komunikasi adalah respon yang kita terima
8.      Sikap tingkah laku didasari sebuah maksud yang positif
9.      Manusia selalu memilih yang terbaik yang tersedia bagi mereka
10.  Jika apa yang sedang anda kerjakan tidak berhasil, lakukan sesuatu yang lain
2.7 Kerangka Kerja NLP
Menurut Carol Harris ( 2003: 52-64 ), kerangka kerja NLP adalah sebagai berikut:
  1. The Experiental Array ( susunan atau rangkaian pengalaman )
Rangkaian ini memiliki lima elemen yang memiliki kontribusi terhadap performance, yaitu:
    • Outcomes ( hasil )
    • Behavior ( perilaku )
    • Mental strategi ( thoughts ) – strategi mental ( pemikiran )
    • Emotional state ( feelings ) – keadaan emosi ( perasaan )
    • Belief and value ( keyakinan dan nilai )
  1. Neurological levels ( level-level neurology )
Kerangka kerja ini memiliki 6 level dasar, yaitu :
a.             Lingkungan ( merupakan tempat dimana segala sesuatu terjadi )
b.            Perilaku ( apa yang dilakukan oleh seseorang )
c.             Kemampuan ( bagaimana seseorang melakukan suatu aksi )
d.            Keyakinan ( alasan dari seseorang melakukan sesuatu )
e.             Identitas ( apa yang orang pikirkan tentang diri mereka sendiri )
f.             Spiritualitas
g.             
2.8 Teknik-teknik dalam NLP
            Yang menentukan kesuksesan terapi NLP adalah rapport yang baik. Terapi harus mampu membangun rapport yang baik sehingga klien mempercayakan permasalahannya untuk dapat diselesaikan oleh terapis. Beberapa teknik-teknik yang digunakan dalam terapi adalah sebagai berikut :
a.      Meta-Mirror
            Aspek paling signifikan dari teknik meta mirror adalah fokus beban tanggung jawab atas perubahan dalam masalah itu berada di pundak klien dan bukan hal lain dalam masalah itu. Contohnya jika klien mengalami fobia ketinggian, tanggung jawab hilang atau tidaknya fobia tersebut tergantung pada klien, bukan pada fobia itu sendiri. Teknik meta mirror memfokuskan klien pada apa yang mereka sendiri bisa lakukan untuk meningkatkan hubungan dan pada cara membantu klien masuk ke sumber-sumber personal mereka untuk membuat perubahan positif dalam sikap dan perilaku mereka sendiri. Langkah-langkah meta mirror adalah sebagai berikut:
Langkah 1
            Klien didudukan berhadapan dengan kursi kosong. Lalu minta klien mengimajinasikan objek (bisa orang lain jika permasalahan interpersonal, objek fobia jika masalah berkaitan dengan fobia) duduk dikursi nyata yang ditempatkan di depannya. Dorong klien untuk menciptakan visualisasi sepenuhnya. Kemudian Tanya bagaimana perasaan klien saat memandang objek imajiner itu.
Langkah 2
            Ubah posisi duduk klien sehingga ia menduduki posisi yang semula berisi objek imajiner. Dalam posisi ini klien diminta untuk mengimajinasikan dirinya sebagai orang lain yang duduk di kursi. Lalu ajukan pertanyaan “saat kamu melihat dirimu sendiri apa yang kamu rasakan ?”. Di tahap ini, metafora “berdiri di atas sepatu orang lain” memungkinkan klien untuk mendapat pendalaman akan dirinya dari sudut pandang orang lain. Selain itu juga membuat klien untuk mengembangkan rasa empati.
Langkah 3
            Bawa klien ke posisi yang bisa dengan mudah melihat ke dua kursi sebelumnya. Hal ini membantu klien memiliki perspektif baru. Pada tahap ini, klien bisa menjadi lebih relaks, lebih tenang dan lebih percaya diri pada sesi terapi.
Langkah 4
            Bawa klien ke posisi di mana ia bisa melihat dengan jelas versi “dia” di posisi 1, 2, 3. Pada tahap ini, klien diminta untuk mengabaikan sekitarnya dan benar-benar berfokus pada posisi sebelum-sebelumnya. Ia diminta untuk membayangkan  apa yang kurang dan perlu diperbaiki supaya terjadi perubahan pada diri klien.
Langkah Akhir
            Bertujuan untuk membawa klien supaya bersentuhan dengan sumber-sumber paling besar pada diri mereka dalam konteks perubahan atas diri. Agar bisa terjadi, maka klien perlu bisa kembali ke awal dan mengalami kembali posisi tersebut, tetapi dengan semua sumber sudah diidentifikasi dari observasi dia atas dirinya secara terpisah.

b.      Penanganan Fobia dengan NLP
            Teknik penanganan fobia dengan NLP didasarkan pada teknik meta mirror dan dapat dilakukan dengan menggunakan perumpamaan kita sedang menonton film di gedung bioskop.
1.      Situasi Menakutkan
            Luangkan waktu 1 menit dan pikirkanlah situasi yang membuat anda takut. Ini dapat berupa pengalaman menelpon dengan sambutan yang buruk, membuat sebuah presentasi, atau situasi yang lain yang membuat anda takut. Pikirkan pengalaman cukup untuk mendapatkan sedikit rasa takut saja. Anda harus memastikan bahwa anda bisa memperoleh jalan masuk ke bagian dari diri anda yang menjadi sumber rasa takut.
2.      Gedung Bioskop
            Sekarang, di dalam pikiran anda, bayangkan bahwa anda sedang duduk dalam gedung bioskop yang besar. Lihatlah diri anda sendiri pada layar dalam sebuah gambar tidak bergerak, sesaat sebelum anda pertama kali dihinggapi rasa takut itu. Jika anda tidak dapat mengingat kapan pertama kali dihinggapi rasa takut itu. Jika anda tidak dapat mengingat kapan pertama kali anda mengalami ketakutan itu, maka pikirkan waktu lain di mana rasa takut ini paling hebat anda rasakan.
3.      Meninggalkan Tubuh
            Sekarang bayangkan melayang keluar dari tubuh dan naik memasuki bilik proyektor, sehingga sekarang anda sedang melihat diri anda sendiri juga pada layar. (untuk fobia ketinggian, jangan membayangkan naik ke bilik proyektor, tetapi cukup bayangkan anda duduk sepuluh baris lebih ke belakang dalam bioskop tersebut). Jangan berpindah dari bilik proyektor ini sampai anda diberitahu untuk meninggalkannya.
4.      Melihat Sebuah Film
            Sementara anda melihat diri anda sedang melihat diri anda sendiri, juga mulailah untuk memutar film hitam putih tentang apa yang benar-benar terjadi dalam situasi yang menakutkan tersebut dan lihatlah diri anda menjalani pengalaman tersebut. Lanjutkanlah untuk melihat film itu dari bilik proyektor, hingga anda mencapai akhir dari situasi ketika trauma berakhir, dimana anda kembali selamat. Hentikanlah film pada titik tersebut dan buatlah film itu menjadi gambar tidak bergerak dari diri anda setelah trauma berakhir.
5.      Putar Mundur Film Tersebut
            Sekarang tinggalkan bilik proyeksi, masuklah kedalam gambar tidak bergerak yang ada pada layar dan jalanilah pengalaman itu secara mundur, dalam gambar berwarna, seolah-olah waktu berbalik dan anda sedang dihisap mundur dengan mesin penghisap debu raksasa. Lakukan hal ini secara cepat sekitar 1 hingga 1 setengah detik. Kerjakan langkah ini beberapa kali lebih banyak jika anda percaya bahwa dengan demikian akan lebih membantu. Ketika anda sudah selesai, secara fisik bangun dan gerakkan tubuh anda. Lemaskan tangan anda dan ambil nafas yang dalam.
6.      Pemeriksaan
            Sekarang, pikirkanlah pengalaman itu kembali dan perhatikan respon anda. Dalam pikiran anda, nilailah rasa takut anda pada suatu skala anngka satu sampai sepuluh, dengan angka sepuluh menjadi angka yang paling buruk. Jika rasa takut lebih dari angka 2, maka ulangilah keseluruhan proses tersebut, sambil melakukan setiap langkah secara penuh kehati-hatian.
            Adalah penting untuk berhati-hati, disaat anda menguji perubahan yang baru saja anda ciptakan dalam dunia nyata. Contohnya, jika anda takut di ketinggian, anda mungkin pergi ke tempat yangn tidak terlalu tinggi, melihat sebuah jendela, dan memperhatikan bagaimana ketakutan anda sudah berubah. Ujilah diri anda secara hati-hati dan perlahan, dengan memperhatikan keselamatan pribadi anda. Persiapkan pengamanan yang perlu untuk situasi yang berbahaya. Rasa takut anda mungkin saja menjauhkan anda dari situasi ini, hingga anda tidak banyak memiliki pengalaman mengenai cara mengatasinya. Beberapa situasi memang benar-benar memiliki kadar bahaya yang tidak bisa dihindari, oleh karena itu penting untuk memperhatikan ini dan mempelajari bagaimana cara untuk mengatasi secara hati-hati dan dengan informasi yang lengkap.

c.       Teknik-Teknik Lain dalam NLP
            Salah satu bentuk teknik NLP yang berguna disebut future pacing. Pada future pacing, klien diminta untuk mengimajinasikan mereka meninggalkan sesi terakhir terapi dan membayangkan betapa bernilainya sesi-sesi yang telah berlangsung. Kemudian ajukan pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana sesi-sesi terapi yang dijalani klien bisa sukses. Yang penting dari proses ini adalah bisa merangkum apa yang secara naluriah diketahui klien yang bisa cocok untuk mereka.
           Dalam NLP juga diterapkan modelling sebagai bagian dari teknik NLP. Modelling adalah suatui proses mengidentifikasi apa yang secara spesifik dan benar-benar membuat seseorang menjadi sukses dalam beberapa perilaku. Kemudian kita meniru tiap perilaku atau sumber-sumber yang membuat orang tersebut sukses dalam bidangnya supaya kita juga mendapatkan kesuksesan serupa.

JAVA of Psychology

Psikologi Jawa

Usaha untuk memahami manusia, terus menurus dilakukan. Maka dari itulah muncul mahdzab-mahdzab Psikologi. Teori-teori Psikologi kontemporer untuk menjelaskan fenomena tersebut juga masih memiliki kekurangan, karena Sosio-cultural masyarakat memiliki ke-khas-an tersendiri di setiap bangsa. Psikologi jawa adalah kawruh jiwa yang mengungkapkan bagaimana orang jawa menjelaskan kehidupan jiwa. Psikologi jawa sebagai Psikologi indigenous; kiranya dapat menjelaskan.

Di tengah maraknya minat mengkaji dunia Timur, dan runtuhnya Grand Theories, usaha eksplisitasi ajaran Kawruh Jiwa 6-Sa Soerjomentaram:
Sabutuhe, Saperlune, Sacukupe, Sakepenake, Samestine, Sabenere; menawarkan perspektif baru dan unik, untuk lebih jauh memahami jiwa manusia, sekaligus mendialogkannya dengan ilmu jiwa “modern” dalam bahasa yang kompatibel. Kalapun itu dianggap terlalu muluk, paling tidak kita bisa berharap psikologi ini dapat lebih tepat untuk memahami orang jawa.

Telaah kritisterhadap Ilmu Jiwa Kramadangsa ini tidak lepas dari padangan kritis terhadap psikologi “resmi” yang hidup dikalangan masyarakat psikologi di Indonesia. Karena gejala metodolatri dengan teknik-teknik analisis yang canggih menjadi sangat kuat, sementara upaya untuk memahami orang seperti Kramalaya dan Kramadangsa menyusut. Untuk memahami rasa Kramadangsa seorang psikolog lebih senang mempercayakan diri pada alat atau metodenya daripada kepekaan rasanya sendiri ketika berdialog dengan Kramadangsa. Tentu saja hal ini perlu dilihat dengan kacamata  yang lebih jernih kelak.

Kawruh Jiwa dalam Kebudayaan Jawa.
Kebudayaan Jawa itu tidak homogen apalagi monolitik. Itu sebabnya Von Magnis (1984), menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan orang Jawa sesungguhnya adalah suatu konsep kontruksi teoritis, dan tidak menunjukan kepada kelompok orang perorangan tertentu.

Nilai-nilai adalah bagian dari wujud abstrak kebudayaan yang menjadi pedoman bagi perilaku manusia. Keterkaitan antara nilai dengan sikap hidup inilah yang biasa disebut sebagai mentalitas. salah satu sikap yang dianggap menonjol oleh orang Jawa adalah ketergantungannya pada masyarakat, demikian Mudler (1973). Dinyatakan bahwa kepribadian orang Jawa hampir sama sekali bersifat sosial. Seseorang dikatakan baik apabila masyarkatnya menyatakan demikian.

Kawruh Jiwa dalam Keseluruhan Wejangan Ki Ageng Soerjomentaram
Ki Ageng Soerjomentaram dapat dikatakan telah mulai memberikan uraian-uraianya sejak berumur kurang lebih 30 tahun – pada masa Pagoejoeban Selasa Kliwon (1921-1922), sampai saat wafatnya 1962. pada keseluruhan naskah yang telah diterbitkan oleh Idayu – yang dipih dari wejangan-wejangan yang diberikan oleh Ki Ageng selama kurang lebih 40 tahun, nampak jelas penerapan “pengawikan Pribadi” tersebut. Ki Ageng menunjukan betapa kesempurnaan hanyalah idam-idaman, cita-cita, keinginan, pamrih yang justru menghalangi tubuhnya manusia tanpa ciri

Dalam ilmu pendidikan yang disampaikan sebagai ceramah dalam Kongres Taman Siswa 1932, beliau menyampaikan perlunya kembali menekankan arti pentingnya kebahagian anak sebagai tujuan pendidikan. karenanya pendidikan anak perlu memusatkan perhatian untuk membantu anak agar supaya berpikir dan mengerti secara sadar. Dalam wejangan-wejangan tersebut, nmapaklah dengan jelas penekanan
akan perlunya Pengawikan Pribadi.

Salah satu penerapan “Pengawikan Pribadi” tersebut adalah membicarakan tentang kesempurnaan, Ki Ageng menunjukan betapa kesempurnaan hanyalah idam-idaman, cita-cita, keinginan, pamrih yang justru menghalangi tumbuhnya manusia tanpa ciri. Bermacam-macam usaha yang dilakukan orang untuk menjadi sempurna di buka kedoknya oleh Ki Ageng sebagai takhayul. Misalnya puasa ngalong di gua-gua dll. Dalam jimat perang, KI Ageng membuka kedok usaha-usaha orang untuk menjadi sakti dengan ajimat-ajimat sebagai takhayul.

Ki Ageng menunjukan betapa keberanian dan ketabahan itu hanya dapat diperoleh dengan mawas diri, membebaskan diri, termasuk kepentingan untuk menjadi pahlawan. Hal ini agaknya berpadanan dengan apa yang diajukan oleh Sosrokarnoto: “sepi ing pamrih, tebih ing ajrih”. Dalam jiwa persatuan, Ki Ageng kembali menunjukan bahwa bersatu, jujur, cinta, guyub akan menumbuhkan rasa enak, puas dan cukup. Dalam Rasa Unggul inilah Ki Ageng menganjurkan supaya orang tidak selalu ngangsa-angsa, ngaya-ngaya, dan berpedoman “enam-sa”, yakni: Sakbutuhe, Saperlune, Sacukupe, Sakepenake, Samestine, Sabenere.
Substansi Kawruh Jiwa
Nama Ilmu Jiwa Kramadangsa diambil dari buku yang diberi judul demikian. Buku tersebut merupakan bahan ceramah Ki Ageng Soerjomentaram bersama Ki Pronowowidigdo di Yayasan Hidup Bahagia di Jakarta pada tahun 1959. Namun keseluruhan dari wejangan-wejangan Ki Ageng yang semula diberi nama “Kawruh begja”atau Kawruh Jiwa”. Kramadangsa adalah sekedar nama. Istilah ini dimaksud oleh Ki Ageng sebagai rasa pribadi yang identik denagn namanya sendiri.

Tiga pokok penting akan dicoba diuraikan di bawah ini yang pertama adalah tentang rasa, yang kedua tentang Aku (Kramadangsa), serta ketiga mawas diri.

1. Rasa
“Wong Jawa iku nggone rasa,” demikian sebuah ungkapan yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa. Suseno (1983) menjelaskan;

‘Dalam bahasa aslinya, yaitu Sansekerta, “rasa” mempunyai berbagai arti. Arti     pokoknya ialah “air” atau “sari” buah-buahan atau tumbuhan. Dari situ rasa lalu     berarti pengecapan (taste), perasaan (perasaan cinta, marah, belas kasihan,     kemesraan); lalu rasa juga berarti “inti”, “suara suci OM” yang adalah pernyataan     kodrat ilahi. Bagi para pujangga rasa berarti kenikmatan terdalam (delight, charm)     sedangkan rasa dari suatu karya sastra ialah “inti dasarnya yang halus dan dalam”     (keynote).’

Dalam kepustakaan Jawa, agaknya rasa dipahamkan sebagai substansi atau zat yang mengalir alam sekalir artinya ia berupa pertemuan antara jagad gedhe dan jagad cilik. Terkadang ia muncul sebagai daya hidup.
Sementara Ki Ageng Soerjomentaram sendiri berpendapat, bahwa hanya dengan jalan mentransendensasikan rasa bertentangan inilah manusia dapat mengembangkan rasa yang lebih tinggi, yakni rasa bebas. Ki Ageng juga berpendapat bahwa orang baru merasa ‘ada’ apabila ia berhubungan dengan orang lain, dengan benda atau rasanya sendiri.

Rasa bertindak-tanduk dalam gagasan dan pikiran, misalnya rasa marah akan menimbulkan pikiran untuk mencelakakan orang lain. Rasa unggul muncul dalam gagasan untuk ngaya-aya mencari drajat, semat, keramat. Rasa Kramadangsa adalah rasa namanya sendiri, ketika seseorang dipanggil menurut namanya.

Kita mengenal hirarki rasa, muali dari yang paling wadhag, berhubungan dengan badan kasar, badan halus, dan roh. Demikianlah kita kenal:

Rasa Pangrasa, yakni rasa badan wadhag, seperti yang dihayati seseorang melalui indranya: rasa pedas, manis, gatal dsb. Juga rasa yang hadir kebadan seseorang, seperti misalnya rasa sakit, rasa enak.
Rasa Rumangsa, yakni rasa eling, rasa cipta, rasa grahita, misalnya ketika seseorang menyatakan bahwa Kramadangsa telah “ngrumangsani kaluputane” atau “rumansa among titah, Kramadangsa among saos sukur”.
Rasa Sejati, yakni rasa yang masih mengenal rasa yang merasakan, dan rasa dirasakan. Sudah manunggal, tetapi masih disebut. Rasa damai, rasa bebas dll.
Sejatining Rasa, yakni Rahsa, yang berarti hidup itu sendiri abadi.

Demikianlah kita melihat ada rasa hidup, rasa tanggapan, rasa catatan, rasa aku serta bebas yang berhubung-hubungan secara prosesual menembus keempat dimensi kehidupan; tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia serta manusia tanpa ciri.

2. Aku, Kramadangsa.         
Kita lihat bahwa kepribadian manusia Jawa terutama dibetuk dari interaksinya dengan lingkungan luar (kenyataan), serta lingkungan dalam (kasunyatan). Sementara Reksosusilo (1983) menunjukan bahwa ‘aku’nya orang Jawa tidak pernah tunggal individual.

Kramadangsa adalah nama orang. Ilmu Jiwa Kramadangsa adalah ilmu jiwa mengenai orang yang bernama Kramadangsa. Kita sendiri adalah orang; jadi mempelajari Ilmu Jiwa Kramadangsa adalah mempelajari diri sendiri.

Manusia adalah juru catat. Melalui panca indera ia menciptakan segala macam kenyataan dalam rasanya. Peran sebagai juru catat adalah peranan dalam ukuran kesatu. Catatan-catatan ini hidup apabila mendapat perhatian dari si juru catat. Dari catatan-catatan ini muncul rasa “Kramadangsa”, rasa aku dengan namanya sendiri.

Karamadangsa mengawasi tindak-tanduknya sendiri. Dalam perhubungan dengan orang lain, orang merasakan perasaan orang lain dalam rasanya sendiri. Kramadangsa perlu membedakan rasanya sendiri, dengan rasa orang lain. Orang adalah barang asal. Sebagai barang asal, ia adalah juru catat pengalamna-pengalamanya. Dalam bangunan asal ini, ada “ada” yang pra-personal, terkadang disebut pra-self. Rasa aku dilahirkan dari rasa catatan-catatan ini, baik jumlah, ragam maupun susunannya.

Sehingga dalam diri manusia ada dua kau, yakni aku tak tetap dan aku tetap. Aku tak tetp ini mengahdirkan diri sesuai dengan keinginan-keinginannya. Aku tetap adalah aku universal, yang telah bebas dari catatan-catatannya sendiri bahkan bisa mengawasi diri sendiri. Manusia tanpa cirilah yang menjadi sebab kenapa manusia mampu membebaskan diri dari keinginan-keinginan yang tanpa batas.

3. Mawas Diri
Mawas diri telah menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi dari kebudayaan Jawa, baik dalam tradisi mitis maupun etis. Sekalipun perlu diingat bahwa hampir semua kepustakaan Jawa keterkaitan antara tradisi etis dan mistis adalah sangat erat.
Mawas Diri adalah tahap integrasi diri di mana egoisme dan egosentrisme diganti dengan sepi ing pamrih (Rahmat Subagyo, 1983)

Mawas diri pada dasarnya adalah meneliti rasa sendiri. Apabila meneliti diri sendiri sampai tuntas, maka orangakan mencapai manusia tanpa ciri. Mawas diri adalah kegiatan manusia dalam dataran psikologi, menembus ke dataran religius etis. Mawas diri dimulai dengan meneliti rasa senang dan rasa susahnya sendiri; yakni rasa orang dalam perhubungannya dengan benda, orang lain serta gagasan.

Secara khusus, mawas diri dilaksanakan dalam hubungan Kramadangsa dengan orang lain. Dengan meniliti rasa sendiri, rasa orang lain dalam rasanya sendiri, orang akan dapat memilahkan rasanya sendiri dengan rasa orang lain. Terkadang dalam usahanya  mawas diri juga mengalami hambatan. Pamrih untuk mencampai kesempurnaan dalam hidup, justru menjadi hambatan utamanya. Terkadang dalam usaha untuk menjadi sempurna, orang sering tergoda untuk memperoleh ilham, wahyu, atau anugerah lain yang membuat ia menjadi sempurna. 

Sebenarnya tidak semua mawas diri punya bau mistik yang keras. Kitab jayengbaya dari Ki Sarataka, nama Raden Ngabehi Ronggowarsito semasa muda, dengan penuh humor melakukan mawas diri. Ia membayangkan diri menjadi orang lain, menimbang-nimbang susah-senangnya, sampai akhirnya dia sampai pada kesimpulan bagaimanapun juga lebih enak jadi diri sendiri.

Mawas diri telah menjadi bagian dari akal sehat masyarakat Jawa untuk masa yang lama. Dalam kepustakaan Kebatinan, istilah ini juga dikenal sangat luas. Brataksewa (lihat Darminta, 1980), misalnya menytakan adanya tingkatan-tingkatan kualitas pengkajian diri ini:

1.    Nanding sarira, di mana seseorang membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain an mendapatkannya dirinya lebih unggul.
2.    Ngukur sarira, di mana seseorang mengukur orang lain dengan dirinya sendiri sebagai tolak ukur.
3.    Tepa sarira, dimana seseorang mau dan mampu merasakan perasaan orang lain.
4.    Mawas diri, dimana seseorang mencoba memahami keadaan dirinya sejujur-jujurnya.
5.    Mulat sarira, lebih dari mawas diri, dimana manusia menetukan identitas yang terdalam sebagai pribadi





psikologi timur



A.  Psikologi Timur dan Teori-Teori Kepribadian Barat
Diantara para teoretikus kepribadian modern, C.G. Jung mungkin adalah orang yang sangat tahu mengenai psikologi-psikologi Timur. Ia adalah sahabat Heinrich Zimmer seorang ahli India dan ahli tentang mandala, suatu motif dasar dalam banyak kesenian suci dari Timur. Jung menulis berbagai karya D.T. Suzuki dan Richard Wilhem, penerjemah kitab I Ching dan teks-teks lainnya yang berisi ajaran Tao dari China. Selain itu Jung menulis ulasan-ulasan atas karya-karya terjemahan Evans Wentz, The Tibetan Book of the Great Liberation dan The Tibetan Book of the Dead, dua karya penting dalam ikhtisar psikologi dari Buddhisme di Tibet. Teman dan tetangga Jung, Hirman Hesse, menyebarkan pikiran Timur melalui novelnya, Siddharta dan Journey to the East. Jung sampai pada hal-hal yang asing bagi ilmu pengetahuan positivistis lewat analisisnya yang ekstensif mengenai agama-agama timur. Meskipun ia juga diperingatan akan bahaya seorang Barat tenggelam dalam tradisi-tradisi Timur, namun tulisan-tulisannya merupakan jembatan utama antara psikologi-psikologi Timur dan psikologi-psikologi Barat.
Medard Boss, seorang ekstensialis Swiss yang berpengaruh, pernah diundang ke India untuk memberi pengarahan tentang psikiatri dan disana ia bertemu dengan orang-orang India. Terapi-terapi Barat kurang mampu memberikan pemahaman yang sungguh-sungguh menerangkan dengan intensitas yang sebanding dengan metode-metode dari Timur, maka Medard Boss mencari bimbingan dari tradisi-tradisi India.
Akan tetapi, Boss kurang terkesan dengan orang-orang Barat yang dijumpainya dengan memakai pakaian orang-orang suci India. Menurut pendapatnya, mereka itu membanggakan diri dengan berbagai kebijaksanaan India. Sebaliknya, para arif-bijaksana India yang dijumpainya memberinya kesan yang sangat dalam.
Boss kembali dari pertemuan-pertemuan ini dengan keyakinan bahwa dari pandangan sudut-sudut ajaran dan tingkah laku guru-guru Timur, metode dan tujuan-tujuan psikoterapi Barat tidak memadai. Jika dibandingkan dengan tingkat pemurnian diri yang dituntut oleh latihan-latihan dari Timur, analisis latihan Barat yang paling baik pun tidak lebih daripada suatu kursus pengantar saja. 

B.     Kajian Psikologi Timur dalam Agama-agama Timur
a.      Kajian dalam psikologi Agama
Menurut robert H. Thouless, psikologi agama memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi. Lapangan kajian psikologi meliputi;
1.      Mempelajari tentang berbagai macam perkembangan kejiwaan keagamaan pada setiap manusia serta sikap keberagamaan mereka.
2.      Perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya.
3.      Mempelajari, meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan.
4.      Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.

Oleh karena itu perkembangan psikologi Timur berkaitan erat dengan perkembangan agama-agama di bagian Timur bumi seperti agama hindu di India, Budha di India, Kristen wilayah Romawi dan Islam di Arab.

b.      Agama Hindu
1.      Sejarah Singkat Agama Hindu
Agama Hindu adalah agama yang berkembang pesat di India dengan usia yang paling panjang diantara agama lainnya. Agama hindu telah melahirkan kebudayaan yang kompleks di bidang astronomi, ilmu filsafat dan ilmu-ilmu lainnnya. Karena luas dan terlalu mendetailnya jangkauan dan pemaparan dari agama hindu, kadang terasa sulit untuk dipahami, sehingga para ahli-pun belum dapat memastikan dan menemukan kesepakatan dalam menentukan kapan tepatnya agama Hindu diwahyukan.
Pada hakekatnya agama hindu di india mempunyai empat fase yakni zaman waeda, zaman brahmana, zaman upanesad, dan zaman budha. Zaman waeda dimulai pada waktu bangsa arya berada di pujab di lembah sungai sindu, sekitar 2500-1500 tahun sebelum masehi. Pada zaman brahmana, kekuasaan kaum brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan. Kitab brahmana adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Pada zaman Upanisad lebih meningkat pada pengetahuan batin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Pada zaman ini muncul ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa, dan Purana.
Sebagian besar pengetahuan kuno India berasal dari kitab Veda, yang merupakan sekumpulan pelajaran, hymne, puisi, dan prosa yang dikompilasikan dari pengajian lisan, empat kitab Veda masih bertahan, yakni :

1. Rig-Veda : berisi hymne-hymne pemujaan
2. Sama-Veda : berisi pengetahuan tentang melodi
3. Yajur-Veda : berisi ritual pengorbanan
4. Atharva-Veda : berisi hal-hal magis (Magics)

Tiap kitab Veda terbagi dalam empat sektor, yakni : Mantras (hymne), Brahmanas (doa-doa ritual), Aranyaka (teks khusus untuk pertapa) dan Upanishads (kajian untuk para filsuf).
Rig-Veda mungkin adalah yang paling populer sebagai literatur karena memuat banyak hymne dan puisi pemujaan pada berbagai objek ibadah, matahari, bulan, angin, fajar dan api. Ketidakpercayaan pada kemampuan intelektual dan pengetahuan indrawi menjadi topik yang dominan, sebagai pencarian atas pengendalian diri, kesatuan, dan pengetahuan universal. Proses pencapaian tujuan ini melibatkan penumpahan segala ilmu, partisipasi, bahkan kesadaran partikular yang hanya berlangsung sebentar saja.
Dugaan untuk mewujudkan tujuan tersebut disebut Atman yang menggambarkan jiwa dari segala jiwa. Atman juga sebagai karakter yang tak berbentuk, sangat tersembunyi, sebuah definisi teraplikasi pada intisari individual, sehingga dikatakan kita bukanlah mind, body atau keduanya tetapi kita impersonal, netral dan menyerap realitas.

2.      Psikologi Timur dalam Pendidikan Agama Hindu
Pendidikan agama hindu adalah usaha yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan anak dalam menyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama hindu. Apabila dikaji tentang makna pendidikan mengandung pengertian mengantarkan anak ke tingkat dewasa, atau kedewasaan baik jasmani maupun rohani. Pendidikan agama hindu sangat erat kaitannya dengan psikologi agama dalam menangani berbagai kasus yang membentuk krisis moral. Dengan demikian kedua ilmu ini akan memberikan kontribusi yang menanamkan konsep nilai dan norma. Dalam agama hindu manusia sejak dilahirkan telah membawa potensi keberagamaan dan potensi ini baru dalam bentuk sederhana, yaitu berupa kecendrungan untuk mengabdi kepada sesuatu. Dan didalam agama hindu pendidikan dilakukan pada saat sebelum bayi (pranatal) dilahirkan dan sesudah bayi dilahirkan. Jika kita mencoba mengaitkan antara psikologi agama dengan salah satu pembagian daripada Panca Srada yaitu percaya dengan adanya Moksa yang adalah kebebasan dengan ikatan keduniawian dari belenggu Karma Pala dari Samsara. Pendekatan psikologi dalam pendidikan agama Hindu telah ada sejak dulu, dan mempunyai sejarah yang cukup tua. Hal ini dapat dibuktikan dari naskah-naskah hindu kuno, seperti kitab suci weda, upanisad, ramayana, dan maha brata.
Psikologi Hindu tampak jelas pada zaman Upanishads karena Upanishads lebih menekankan pada kebijaksanaan ajaran Hindu dalam kaitannya manusia dengan dunianya dan memakai metode spriritual yang menyelamatkan kita dari terlepasnya ikatan antara particular dan material. Perpindahan esensi manusia dipandang sebagai hukuman atas kehidupan iblis dan reinkarnasi merupakan jalan pelepasan ikatan tersebut. Dengan menghilangkan keinginan individual melalui kehidupan pertapa, kita dapat keluar dari individualisme dan terserap kembali ke dalam kesatuan menyeluruh dari “Yang Ada” (Being) .
Tujuan-tujuan yang diungkapkan dalam Upanishads mengarahkan pada psikologi yang sangat bertentangan dengan dasar filosofis ajaran Barat. Namun lambat laun Upanishads mengakui bahwa individu menegaskan dirinya sendiri sebagai proses adaptasi dan perkembangan yang sempurna.
Implikasi penting filsafat Hindu dalam psikologi :
1. Individu memiliki karakteristik sebagai bagian dari kesatuan yang lebih besar.
2. Penegasan individualitas dipandang bukan hanya berarti bagi dirinya sendiri, tapi lebih kepada sebuah aktivitas yang diminimalkan dan dihindari.
3. Penekanan pada humanisme yang berdasar pada konsep dasar Hindu.

c.       Agama Budha
1.      Sejarah Singkat Agama Budha
Sejarah agama Budha dimulai dari abad ke-6 sebelum masehi sampai sekarang dari lahirnya sang Budha Sidharta Gautama di India. India India menjadi sebuah storehouse pengetahuan-pengetahuan yang mendalam dan bervariasi.
Budha adalah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Selama masa ini, agama ini sementara berkembang, unsur kebudayaan india, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), asia tengah, asia timur dan asia tenggara. Dalam proses perkembangannya ini, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia. Sejarah agama Budha juga ditandai dengan perkembangan banyak aliran dan mazhab, serta perpecahan-perpecahan. Yang utama diantaranya adalah aliran tradisi Theravada, Mahayana dan Vajrayana (Bajrayana) yang sejarahnya ditandai dengan masa pasang dan surut.

2.      Kajian Agama Budha dengan Psikologi Timur
Filsafat yang mendasari psikologi di India terekspresikan dalam enam sistem, yaitu :
1. The Nyaya System (argumen/alasan), metode investigasi dan berpikir di India, tujuan utamanya mencapai Nirvana, menggunakan silogisme bahwa ilmu dapat membimbing individu untuk membebaskan diri.
2. The Vaisheshika System, menyatakan bahwa kenyataan merupakan komposisi dari atom dan kehampaan.
3. The Sankhya System, sistem tertua yang mengidentifikasikan 25 realitas yang menyokong dunia. Tubuh diskemakan secara terperinci sebagai substansi yang mengandung intelektualitas, kemampuan indrawi, mind, organ perasaan dan tindakan. Jiwa (spirit) digambarkan sebagai seorang manusia, prinsip fisik yang memberi substansi sebuah kehidupan, bersifat universal dan plural, bukan individual.
4. The Yoga System, membebaskan tubuh manusia dari hasrat/nafsu badaniah dan pengetahuan indrawi melalui kekuatan supernatural dengan jalan meditasi.
5. The Purva-Mumansa System, menggunakan mind untuk mensari kebenaran.
6. The Vendanta System, merupakan perluasan kitab Veda yang menyatakan prisnsip pertamanya bahwa Tuhan dan jiwa (soul) adalah suatu kesatuan, merngaplikasikan ajarannya pada pencarian insight, keterbukaan, disiplin diri dan keinginan untuk menemukan kesatuan dan kebahagiaan dalam Tuhan.

Perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat selama kurun waktu satu abad terakhir membuat sebagian umat budha mempertanyakan kondisi sebenarnya agama budha dalam pandangan sains. Agama budha mempunyai peranan besar dalam bidang psikologi karena agama budha dikatakan sebagai sains mengenai pikiran. Agama budha digunakan dalam studi seperti terapi gangguan tidur, penyembuhan terhadap pemikiran dan bentuk-bentuk mental yang negatif, pemahaman terhadap proses terjadinya mimpi, tidur, dan proses kematian oleh banyak neurosientist dan psokoterapist terkemuka.

d.      Agama Kristen
1.      Sejarah Singkat Agama Kristen
Agama Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasar pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama ini meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia yang dapat menebus manusia dari dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Agama Kristen termasuk salah satu dari agama Abrahamik yang berdasarkan hidup, ajaran, kematian dengan penyaliban, kebangkitan, dan kenaikkan Yesus dari Nazaret ke Surga. Kekristenan adalah monotheisme, yang percaya akan tiga pribadi  (dalam bahasa Yunani Hipostasis) Tuhan atau Tritunggal. Tritunggal pertama kali pada Konsili Nicea Pertama yang dihimpun oleh Kaisar Romawi Konstantin I. Kata Kristen sendiri memiliki arti “pengikut Kristus atau pengikut Yesus”.
Dalam kepercayaan Kristen Yesus Kristus adalah pendiri gereja dan kepemimpinan gereja yang abadi. Umat Kristen juga percaya bahwa Yesus Kristus akan datang pada kedua kalinya sebagai Raja dan Hakim di dunia ini.

2.      Kajian Agama Kristen dengan Psikologi Timur
The Cristian of Assosiation for Psychological Studies (CAPS) menyatakan bahwa ada kesulitan bahwa tidak menemukan teori yang jelas mengenai kekristenan.  Mereka menyatakan bahwa semua kebenaran adalah milik Tuhan

e.       Agama Islam
1.      Sejarah Singkat Agama Islam
Islam berawal pada tahun 1622 pada saat wahyu pertama diturunkan pada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira, Arab Saudi. Nabi Muhammad di lahirkan di mekah pada Tahun Gajah yaitu 570 Masehi. Muhammad saw dikenal sebagai pemuda as-Sidiq dan istri pertamanya adalah Khadijah. Wahyu pertama didapatkannya ketika berusia empat puluh tahun. Jazirah arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati jalur sutra. Kebanyakan bangsa Arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut kristen dan Yahudi. Setelah kematian Nabi Muhammad saw kerajaan Islam berkembang hingga samudra Atlantik dan Asia Tengah di Timur. Kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti Ummayah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottomon, Kemaharajaan Mughal, India dan Kesultanan Melakan telah menjadi kerajaan yang besar di dunia.
Kembali ke sejarah masa lalu ada tiga corak pendekatan dalam memahami dua manusia. Pertama, pendekatan Qur’ana-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwal kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pelit, korup, gelisah, mudah frustasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu, hidup merana, dan mati menyesal di akhirat masuk neraka), dan beberapa karakter jiwa : yang selalu menyuruh berbuat jahat, yang senantiasa dan yang tenang damai. 

2.      Kajian Agama Islam dengan Psikologi Timur
Psikologi Islam adalah sebuah kajian yang baru dikenbangkan di awal tahun 60-an. Kajian ini bermula dari usaha Dr. Zakiah Drajat yang mulai mengenalkan psikologi dari tinjauan agama. Namun pada tahun 1994, para peminat psikologi Islam akhirnya dikumpulkan dan munculah kesepakatan untuk menamakan pengetahuan baru tersebut dengan nama psikologi Islam.         
Pada dasarnya, psikologi Islam lebih mengarah pada pendekatan kajian sains dengan kajian ilmu agama, yang secara spesifiknya adalah mendekatkan kajian psikologi pada umumnya dengan kajian Al-Qu’an. Dengan demikian maka dipahami bahwa landasan filsafat ilmu dari psikologi Islam adalah konsep manusia menurut Al-Qur’an.
Perkembangan psikologi Islam dapat dikatakan cukup baik, dilihat dari makin meningkatnya jumlah tenaga pengajar ataupun mahasiswa yang tertarik mendalami bidang pengetahuan yang terbilang cukup baru. Tujuan dikembangkannya psikologi Islam adalah untuk mempertahankan kesehatan mental dan keimanan dalam diri individu. Kajian ini menitikberatkan pada dimensi spiritual dikarenakan dimensi ini merupakan sumber dari potensi, bakat, sifat, dan kualitas dari manusia. Bahkan, dimensi ini merupakan suatu dimensi yang tak pernah tergoyang walaupun pemiliknya sedang sakit secara fisik maupun psikis.

C.    Perkembangan Psikologi di beberapa Negara Timur
a.      Jepang
Jepang telah menjadi pemimpin dari penelitian Psikologi dan jurnal Jepang menyediakan sebuah penghargan dan bagian yang tak terhingga nilainya dari dasar Psikologi. Penemuan model barat dari pemeriksaan psikologi di Jepang biasanya memperhitungkan Yujiro Motiva (1858-1912) sebagai psikolog eksperimental Jepang pertama. Ia menjadi profesor di bidang psikologi yang pertama di Jepang di Universitas Tokyo dan mendirikan laboratorium di sana. Ia melanjutkan penelitian bahwa ia maengawalinya dengan Hall pada kepekaan dermal. Matataro Matsumoto (1865-1943) pergi ke Leipzig untuk bekerja dengan Wundt dan kembali ke Jepang pada tahun 1980. Ia mendirikan departemen psikologi dan laboratorium di Universitas Kyoto. Matsumoto merujuk pada sistem psikologinya sebagai psikosinematik atau pekerjaan mental yang berupa sebuah tipe dari kontrol psikofisiologikal dimana ia belajar secara eksperimental kondisi dari kekuatan mental melebihi gerakan tubuh. Kwanichi Tanaak (1882-1962) instrumental dalam memperkenalkan behaviorisme Watson di Jepang. Tanaka mempublikasikan tipe dari metode objektif yang diusulkan oleh Watson. Koichi Matsude (1883-1947) mengusulkan versi awal dari kognisi hewan denganh interpretasinya tentang tingkah laku hewan pada tingkat kesadaran. Ryo Kuroda (1890-1947) berargumentasi bahwa tingkah laku dan kesadaran adalah 2 hal dari pengalaman yang sama dan lebih bersifat komplemen daripada kontradikti. Psikologi Gestalt diperkenalkan oleh Kanae Sakuma (1888-1970) yang menerima pendidikan inisialnya di Jepang dan kemudian belajar di Berlin pada tahun 1925 dan 1926. Hiroshi Hayami memperkenalkan tradisi fenomenologikal dari Husserl yang menyediakan lebih banyak akses langsung kepada pengalaman. Shoma Morita (1874-1938) beargumen bahwa reaksi dan perhatian yang tak pantas terhadap tingkah laku neurotik sering membesar-besarkan masalah dan hasil pada masa-masa ganas. Morita menawarkan alternatif therapeutik yang dipinjam dari Zen Buddhism. Zen bersifat antirasionalistik, tapi itu mencari jejak ilmu pengetahuan dengan intuisi dan interpretasi daripada kepercayaan pada tulisan tradisional Budha. Tujuan dari teori Morita adalah mencari harmoni dengan alam semesta, tidak berperang atau menentang alam semesta. Morita menjelaskan ada 4 tingkat prosedur dimulai pada kecemasan pasien dan berakhir pada persiapan pasien untuk mengembalikan keberadaan tiap harinya. Model itu dikembangkan lebih lengkap pada psikologi Zen oleh Koji Sato (1905-1971) aslinya dipengaruhi oleh Psikologi Gestalt, lalu Sato beralih pada psikoanalisis dan Psikologi klinis. Teknik meditasi Zen menggunakan adaptasi fisikal di perawakan dan pernapasan untuk menerima ketenangan dan kejernihan melalui realisasi harmoni dan integrasi dari individu dan alam semesta.
b.      India
Pada tahun 1916 di Universitas Calcuta, N.N Sangupta menjadi profesor pertama di Departemen Psikologi dan kemudian ia pergi ke Lucknow di India utara, dimana ia memulai laboratorium Psikologi pada tahun 1929. Pada tahun 1925, Universitas Mynsore juga menawarkan kurikulum Psikologi. Masyarakatr Psikoanalitik India dibangun pada tahun 1922, diikuti tiga tahun kemudian oleh sebuah organisasi yaiut Asosiasi Psikologi India yang menerbitkan Indian Journal of Psychology. Beberapa tahun kemudian muncullah yoga sebagai aplikasi dari Psikologi itu sendiri. Yoga adalah sebuah filsafat dominan dari India kuno, dari Upanishad. Yoga adalah sebuah sistem dari disip[lin diri dalam refleksi yang digunakan unutk menbantu seseorang mengumpulkan ilmu pengetahuan. Seperti yang diajarkan filsuf pertama Patanjali (150 SM) pada Yoga-Sutras-nya, tujuan dari yoga adalah mencari kebebasan diri dari semua konteks mental. Psikolog telah memperlihatkan yoga dalam jangka waktu dari indikasinya untuk terapi tingkah laku, kontrol psikofisiologikal dan perkembangan kognitif.

c.       China
Laboratorium penelitian psikologi pertama didirikan di Universitas Beijing (Peking) pada tahun 1917, dan Departemen Psikologi yang berdiri sendiri pertama didirikan di Universitas Nanking.Asosiasi Psikologi Cina dimulai pada tahun1921 dengan Zhang Yaoxiang sebagai presiden pertama. Jurnal Psikologi berisi ringkasan dari pekerjaan eksperimen Amerika terkini. Ketika Jepang diserang 5 provinsi di Cina utara bermula pada 1937, semua kegiatan penelitian dihentikan. Kontak dengan barat benar-benar berakhir, dan usaha awal untuk kebangkitan kembali psikologi dipengaruhi olehpenasihat Soviet yang cenderung mengusulkan model dari refleksologi. The Chinese Academy of Sciences didirikan kembali pada tahun 1950 dan tahun 1956 Institut of Psychologycal Research didirikan di bawah bagian akademi biologi, yang mungkin merefleksikan pengaruh dari penasihat soviet tersebut. Pada tahun 1955 The Chinese Psychological Asasociation didirikan kembali dengan Pan Shu sebagai presidennya. Kesadaran sebagai area belajar telah dihukum sebagai perantara kelas dan penelitian psikologi telah dicela sebagai metafisikal dan borjuis.

D.    Pengaruh penting Psikologi Timur
Walaupun psikologi-psikologi Timur banyak menaruh perhatian pada alam kesadaran dan hukum-hukum yang mengatur perubahannya, psikologi ini juga mengandung teori-teori kepribadian yang cukup jelas. Tujuan dari psikologi-psikologi Timur adalah mengubah kesadaran seseorang agar mampu melampaui batas-batas yang diciptakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang membentuk kepribadian orang itu. Dalam hal ini, setiap tipe kepribadian perlu mengatasi hambatan-hambatan yang berbeda untuk membebaskan diri dari batas-batas ini.  
Pengaruh penting Psikologi Timur terhadap sejarah perkembangan Psikologi secara umum dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
1.      Pemikiran, tradisi intelektual dan religius Daerah Timur yang terkadang lebih kompleks dan bervariasi daripada Dunia Barat membawa kemajuan yang baru bagi perkembangan intelektual, yang kemudian diwujudkan dengan penemuan-penemuan kembali tulisan-tulisan kuno oleh ilmuwan-ilmuwan Daerah Timur.
2.      Ketertarikan terhadap filsuf-filsuf kuno maupun modern dari Asia dan sistem kepercayaannya, hingga sekarang semakin memperluas dan mempertanyakan asumsi-asumsi di balik studi tentang human process.
Disamping itu, pendekatan psikologi-psikologi Asia didasarkan pada introspeksi dan pemeriksaan diri sendiri yang menuntut banyak energi, berbeda dengan psikologi-psikologi Barat yang lebih bersandar pada observasi tingkah laku.
 Setiap kutipan oleh Gardner dan Louis Murphy (1968) dari kitab-kitab suci Asia, memberikan semacam wawasan psikologis, baik suatu pandangan tentang bagaimana jiwa bekerja, suatu teori kepribadian, ataupun suatu model motivasi. Kendati mengakui adanya perbedaan-perbedaan diantara psikologi-psikologi Asia tersebut, namun Gardner dan Louis Murphy (1968) menyimpulkan bahwa psikologi-psikologi itu pada hakikatnya merupakan suatu reaksi terhadap kehidupan yang dilihat sebagai penuh dengan penderitaan dan kekecewaan. Cara umum untuk mengatasi penderitaan yang dianjurkan oleh psikologi-psikologi ini adalah disiplin dan kontrol diri, yang dapat memberikan kepada orang yang mengupayakannya “suatu perasaan ekstase yang tak terbatas dan hanya dapat ditemukan dalam diri yang bebas dari pamrih-pamrih pribadi”. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa, minat psikologis  di Timur dan Barat “berpadu dengan sangat cepat”.
Selain itu, Alan Watts dalam ”Psychotherapy East and West” (1961) mengakui bahwa apa yang disebutnya “cara-cara pembebasan Timur” adalah mirip dengan psikoterapi Barat, yakni bahwa keduanya bertujuan mengubah perasaan-perasaan orang terhadap dirinya sendiri serta hubungannya dengan orang-orang lain dan dunia alam. Sebagian besar terpai-terapi Barat menangani orang-orang yang mengalami gangguan; sedangkan disiplin-disiplin Timur menangani orang-orang yang normal dan memilih penyesuaian sosial yang baik. Meskipun demikian, Watts melihat bahwa tujuan dari cara-cara pembebasan itu cocok dengan tujuan terapeutik sejumlah teoritikus, khususnya individuasi dari Jung, aktualisasi diri dari Maslow, otonomi fungsional dari Allport, dan diri yang kreatif dari Adler.
Setelah itu, Richard Alpert atau yang lebih dikenal dengan Ram Dass pun berpendapat bahwa meditasi dan latihan-latihan rohani lainnya dapat menghasilkan jenis perubahan kepribadian terapeutik yang tidak dapat dihasilkan oleh obat-obat bius. Ia juga menekankan pada pentingnya pertumbuhan rohani, dan kekosongan hidup jika dijalani tanpa kesadaran rohani.