SNOW


TUD'S EDUCATION

Minggu, 20 November 2011

DELIQUENT CHILDREN


A.    PENGERTIAN DELIQUENT CHILDREN

Secara sederhana anak-anak yang melanggar norma sosial dan anti sosial bisa dikatakan anak-anak nakal (delinquent children). Dengan kata lain bahwa anak nakal ialah anak yang melanggar norma & anti sosial.

Secara khusus anak-anak nakal juga dapat dipahami melalui beberapa pendekatan, seperti di bawah ini;

1)      Pendekatan psikologis
      Pendekatan psikologis terutama menggunakan psychoanalysis theory bahwa kenakalan anak karena kegagalan pembentukan aspek sosial/ aspek moral (super ego) pada anak.
Gangguan psikiatrik bisa juga merupakan penyebab timbulnya kenakalan anak. Berdasarkan patologi intra psikis bisa menjadi penyebab kegagalan hubungan interpersonal antara orangtua dengan anaknya diawal kehidupannya. Gangguan hubungan interpersoal ini bisa menimbulkan neurotik bahkan bisa psikotik atau disorder yang lainnya antara lain anti sosial.
o   Johnson dan Szurck mengatakan bahwa kenakalan anak adalah sebagai lubang dari super ego (super egonya berlubang).
o   Mowrer (1961) mendifinisikan kenakalan anak sebagai rendahnya moral yang disebabkan oleh lemahnya kata hati karena pengajaran yang salah (kurang tepat) pada awal kehidupan anak.
o   Bandura dan Walter mengatakan bahwa kenakalan anak merupakan manifestasi frustrasi terhadap kebutuhannya. Manifestasi frustrasi tersebut dapat juga berupa agresi.
o   Travis dan Hirchi mengatakan bahwa kenakalan ditentukan oleh tindakan yang mengakibatkan masyarakat menghukum pada pelakunya.
o   C. Burt mengatakan bahwa anak dapat dianggap nakal ketika kecenderungan antisosialnya tampak menjadi tindakan nyata.
o   Richard A.Cloward mengatakan bahwa tindakan nakal adalah perilaku yang melanggar norma masyarakat. Apalagi ketika diketahui secara resmi bahwa tindakan tersebut dinilai oleh agen hukum kriminal benar-benar telah melanggar norma.

2)      Pendekatan keagamaan.
      Secara umum manusia berkemauan (berkeinginan) bebas. Pada umumnya manusia akan menuntut kepuasan dan menolak ketidak-enakan. Menuntut kepuasan kadangkala menjadi penyebab tindakan nakal. Kepuasan sebagai sumber kenalan. Bagi yang percaya bahwa sesudah mati seseorang akan diminta mempertanggung jawabkan seluruh perilakunya, dan yang berperilaku salah akan menerima hukuman maka dia akan lebih berhati-hati dalam kebebasan memenuhi kepuasannya. Sedangkan bagi yang tidak percaya hal tersebut maka dia secara bebas berperilaku semaunya untuk memenuhi kepuasannya. Keyakinan tentang hal ini akan menjadi faktor penyebab muncul tidaknya perilaku kenakalan.

3)      Pendekatan biologis.
      Menurut pendekatan biologis bahwa perilaku anti sosial didasarkan pada faktor genetik. Perilaku antisosial ditimbulkan oleh faktor organis yaitu karena nervous system yang pathologis sehingga dalam menyesuaikan terhadap lingkungan sosialnya nampak nakal.

4)      Pendekatan sosiologis.
      Pendekatan sosiologis menitikberatkan pada kondisi sosial sebagai penyebab timbulnya perilaku anti sosial.
o   Menurut Teori Merton bahwa munculnya perilaku anti sosial ketika anak tidak menemukan identifikasi cara untuk memenuhi tujuannya (keinginannya/kebutuhannya) sehingga ia menggunakan perilaku yang bertentangan dengan norma sosial (anti sosial). Perilaku anti sosial merupakan kegagalan usaha memperoleh legitimasi masyarakat ketika anak ingin mencapai tujuannya.

5)      Pendekatan hukum.
      Karena anak-anak masih berusia terlalu muda untuk dikenai sangsi hukum maka kenakalan anak-anak belum bisa dikatakan perilaku melanggar hukum. Anak yang nakal belum bisa dihukum tetapi harus dibina oleh orangtuanya atau dititipkan kepada lembaga penitipan pendidikan anak. Jadi anak yang nakal perlu pembinaan yang intensif dan bukan dikenai sangsi hukuman.

6)      Pendekatan kesehatan mental.
      Menurut kesehatan mental bahwa kenakalan anak adalah ekspresi dari kebutuhannya. Perilaku nakal adalah merupakan gejala dari kebutuhannya yang ingin dipenuhi dengan cara-cara yang tidak bisa diterima oleh lingkungan sosialnya. Misalnya : anak berusaha memenuhi keinginan kebutuhannya tetapi dia tidak mempunyai uang lalu dia mencuri atau cara-cara lainnya yang tidak disukai oleh lingkungan masyarakatnya. 

B.     KARAKTERISTIK ANAK-ANAK NAKAL

1). Fisik.
Bentuk tubuh yang mesomorphic, otot yang kuat dan kekar
2). Temperament.
Extrovert, impulsive, restless, aggressive, destructive.
3). Sikap.
Menolak otoritas, tampak menyimpang, jahat.


4). Psikologis
Dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya cenderung tidak metodologis (cenderung semrawut). Ekspresinya cenderung langsung dan konkrit dari pada intelektual simbolik.
5). Sosio cultural
Emosinya kurang lembut, kurang stabil, standar moralnya rendah.

C.     TIPE-TIPE PERILAKU KENAKALAN ANAK

Tipe-tipe tindakan kenakalan sangat bervariasi mengikuti variasi budaya, variasi kondisi sosial-ekonomi dan variasi yang lainnya. Tidak ada tipe kenakalan yg universal untuk semua wilayah dan daerah. Dibawah ini hanya contoh sebagian saja dari tipe-tipe tindakan kenakalan.

1). Kecenderungan serakah
Tindakan kenakalan anak-anak mempunyai arah memuaskan kecenderungan serakahnya. Mencuri yg dimulai dari lingkungan keluarga, tetangga, sekolah, toko, dst. Mereka mencuri beberapa barang yang mempunyai nilai emosional (sentimental) seperti saputangan, cicncin, dsb. Pencu rian yg demikian merupakan tindakan melepaskan ketegangan seksual dika langan remaja. Kadang-kadang mencuri berhubungan dengan keirian (kecemburuan), kebencian atau agresi. Ada juga tindakan pencurian di kalangan remaja merupakan tindakan solidaritas pada kelompoknya. Satu kelompok beramai-ramai mencuri mangga tetangganya.

2). Tindakan memalsu
Contoh tindakan memalsu adalah memalsu tanda tangan dan tindakan memalsu yang lainnya. Kadangkala memalsu tanda tangan temannya. Bahkan memalsu tanda tangan orang tuanya di lembar cheques untuk mengambil uang milik orangtuanya di bank.

3). Kecenderungan agresif
Ada kecenderungan agresive dikalangan remaja. Salah satu contoh adalah vandalisme (merusak benda-benda yang ada disekitarnya), menyerang secara fisik dan semacamnya.
Beberapa contoh kekejaman mental.
a.       Perusakan barang-barang milik sekolah.
b.      Berlagak jagoan (Jawa : petentang-petenteng), mengejek, mengolok-olok,
c.       Penganiayaan pada binatang
d.      Melakukan bunuh diri

4). Kenakalan dibidang seks. Antara lain misalnya :
a). Homoseksual (melakukan aktifitas seksual terhadap sesama jenis
     kelamin)
b). Melakukan hubungan seks (heterosexual)
c). Berkata-kata yang buruk
d). Prostitution (pelacuran)
e). Melarikan perempuan dan memperkosa
f).  Exhibitionisme (menampakkan bagian tubuh/aurat)
g). Melakukan perangsangan seksual terhadap lawan jenis kelamin. KNPI
     (kissing, necking, petting, instercourse)
h). Melakukan onani (masturbation)

5). Kecenderungan lari dari situasi
Kecenderungan ini ditandai dengan ketidak mampuan menghadapi realitas.
a)      Membolos sekolah
b)      Minggat dari rumah

D.    SEBAB-SEBAB TIMBULNYA KENAKALAN ANAK
Terdapat dua pandangan yang berbeda tentang penyebab timbulnya kenakalan anak-anak. Pandangan pertama mengatakan bahwa penyebab kenakalan anak adalah factor keturunan (heredity factor). Sedangkan pandangan yang kedua mengatakan bahwa penyebab kenakalan anak adalah factor lingkungan.
*      Faktor Keturunan

Lombroso (1836-1909) orang Itali yang meneliti sejumlah penjahat dan yang diteliti adalah ciri-ciri fisiknya. Dia meyakini bahwa Penjahat dapat dikenali dari ciri-ciri fisiknya seperti dagu yang kuat, rambut yang berlebih-lebihan, rahang berbentuk segi empat-besar-kuat, terdapat sejumlah garis-garis kecil di telapak tangan nya, gerakan matanya cepat, tulang pipi lebar-keluar. Lombroso berpendapat bahwa penjahat itu diturunkan. Pengikut (aliran) Lombroso dikenal dengan Lombrosianisme.
William Sheldon dan Gluecks mengatakan ada hubungan antara type tubuh (badan) dengan kenakalan. Type mesomorph terdapat lebih banyak yang kriminal dari pada type ectomorph & endomorph. Gluecks dalam bukunya Physique and delinquency mengatakan bahwa faktor fisik dapat membedakan yang nakal dan yang tidak nakal.
Healy dan Bronner dalam penelitiannya terhadap delinquents mengatakan bahwa 37 % delinquents mempunyai intelegensi sub-normal. Delinquents lebih banyak berasal dari mentally-handicapped  daripada kelompok normal.


*      Faktor-faktor lingkungan

a)      Lingkungan rumah
Interaksi dalam lingkungan keluarga merupakan interaksi yang face to face, sangat intim/sangat hangat, sehingga lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang berpengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian anak.

ü  Broken Home
Prosentasi terbesar para delinquent children berasal dari keluarga yang broken home. Penyebab broken home, antara lain;

                                                                                i.      Kesulitan penyesuaian pernikahan/perkawinan
Terdapat ketidak cocokan antara suami istri. Mereka tidak bisa bekerjasama. Kondisi semacam ini mempengaruhi poerkembangan kesehatan mental anak. Anak cenderung menjadi nakal.

                                                                              ii.      Ayah-ibu yang bekerja
Ayah dan ibu yang terlalu sibuk bekerja mengejar karir pekerjaan, waktu & tenaganya tersita untuk pekerjaannya sehing ga perhatian pada anaknya menjadi berkurang, anaknya kurang dibimbing. Anaknya cenderung menjadi nakal. Ada perkecualian bagi ayah-ibu yang bekerja tetapi masih efektif membimbing anak nya maka anaknya akan tumbuh-kembang menjadi anak yang baik. Kuncinya terletak pada efektifitas bimbingan orangtua pada anaknya.\

ü  Kemiskinan
Karena kemiskinan orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan anaknya, sehingga anak akan cenderung nakal. Kondisi kemiskinan nyaris kekufuran (kenakalan). Meskipun demikian tidak selalu anak yang nakal berasal dari keluarga miskin.

ü  Ketidakmampuan kedua orang tua
Jika kedua orang tuanya baik secara fisik maupun secara mentalnya berkemampuan abnormal (karena kecacatan), sehingga tidak mampu mengontrol perilaku anaknya maka berke-mungkinan besar anaknya cenderung bertindak nakal.


ü  Displin yang rusak
Jika orangtua tidak mempunyai kriteria disiplin yang baik, kadang terlalu keras dan kadang terlalu lembek. Tipe disiplin yang demikian menciptakan konflik mental pada diri anak. Jika orang tua sering bercekcok, sering bertengkar, sering minum (mabuk) dihadapan anak atau sering mencela anak maka tindakan orangtua yang demikian akan berpengaruh buruk pada anak.  
ü  Kurangnya kasih sayang
Jika orangtua menelantarkan (mengabaikan) anak, orangtua tidak ada perhatian pada anaknya maka anak akan merasa tidak aman. Kondisi yang demikian sangat kondusif untuk munculnya kenakalan anak.
ü  Perlakuan berat sebelah oleh orang tua
Perlakukan orangtua yang berat sebelah pada anaknya maka menjadikan anaknya cenderung berkembang perasaan antisosial.
ü  Ketegangan tak terucapkan
Kadangkala dalam hubungan antar anggota keluarga terdapat ketegangan yang tak terucapkan. Kondisi ketegangan yang demikian tidak memberikan kepuasan emosional pada anak. Anak akan mencari kepuasan emosional di luar rumah. Jika nasibnya buruk maka dia akan memperoleh teman yang akan mempengaruhi kenakalannya.   
ü  Kurangnya hiburan di rumah
Jika di rumah tidak difasilitasi aktifitas rekreasi maka anak akan cenderung memendam perasaan terkurung dalam rumah. Kondisi ini merupakan salah satu faktor yang mendorong munculnya kenakalan anak.

ü  Rendahnya kode moral keluarga
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi kenakalan anak adalah kode moral keluarga. Jika anak tumbuh-kembang dalam kode moral keluarga yang buruk maka dia akan cenderung berkembang ke tindakan anak yang nakal. 

ü  Keluarga yang berjubel
Dikota besar banyak keluarga yang berjubel dalam satu ruangan menjadikan anak mengetahui aktivitas seksual secara sangat dini. Kondisi yang demikian menjadikan anak cenderung berkembang menjadi nakal.

ü  Pembantu rumah tangga
Dikota besar, khususnya keluarga yang status sosial-ekonominya tinggi maka anak hidup bersama pembantu. Misalnya di jaman kerajaan ada kasus anak raja diajari berhubungan seks dengan embok-embannya (perempuan pengasuh anak raja). Ada kemungkinan bahwa pembantu sebagai sumber kenakalan anak.


b)      Sekolah dan kenakalan anak
Sekolah adalah lembaga yang penting setelah keluaraga yang diikuti bertanggung jawab terhadap pembentukan anak

ü  Lokasi sekolah
Sekolah yang berlokasi dekat kawasan industri, dekat kawasan gedung bioskop, dekat kawasan supermarket maka jika anak berada di luar sekolah maka tidak ada yang mengontrol aktifitas anak di luar sekolahnya.

ü  Kurangnya Disiplin sekolah
Jika di sekolah tidak ada disiplin atau disiplin terlalu keras maka anak berkemungkinan besar cenderung menjadi nakal.

ü  Suasana emosional sekolah
Suasana emosional di sekolah berpengaruh besar pada kenakalan anak. Jika diantara guru, diantara petugas tata usaha, antara guru dan petugas tata usaha, sebagian besar mereka sering saling cek- cok, sering saling bertengkar dan murid-murid dipakai sebagai ajang permainan politik mereka maka kondisi yang demikian merupakan suasana emosional yang buruk bagi murid-murid. Jika sekolah dalam kondisi yang demikian maka murid-muridnya berkemungkinan besar cenderung menjadi nakal.     

ü  Perlakuan berat sebelah
Kadangkala guru memiliki kelompok favorit. Kemudian kelompok yang lain membentuk kelompok tandingan. Kadangkala terjadi pertengkaran antara kedua kelompok tersebut (kelompok favorit dan kelompok tandingan) bisa berlangsung lama. Kondisi ini bisa sebagai sumber kenakalan anak.

ü  Kurangnya permainan dan kurangnya perpustakaan sekolah
Sekolah yang tidak memiliki tempat bermain dan tidak memiliki perpustakaan akan cenderung lebih banyak anak yang nakal.

ü  Kurangnya fasilitas sekolah
Sekolah yang tidak memiliki fasilitas-fasilitas untuk beraktifitas para muridnya maka akan cenderung memunculkan kenakalan anak.

ü  Sistem kasta di sekolah
Sekolah yang menggunakan sistem kasta maka akan cenderung memunculkan pertengkaran.

ü  Kurangnya bimbingan
Sekolah yang tidak memiliki guru khusus BK (bimbingan dan konseling) atau tidak ada guru yang berfungsi (bertindak) sebagai guru BK maka ada kecenderungan akan menghasilkan prosentasi yang tinggi anak nakal.                 

ü  Kurang memberikan kebutuhan anak
Sekolah kurang memasukkan kebutuhan anak dalam aktifitas kurikuler sehingga anak menjadi frustrasi.  Frustrasi mereka berkemungkinan besar bisa memunculkan tindakan anti sosial.



ü  Kurikulum yang buruk
Kurikulum yang buruk adalah juga salah satu faktor penunjang munculnya kenakalan anak. 


c) Masyarakat dan kenakalan anak.
Lingkungan sosial (masyarakat) juga mempunyai peranan yang besar dalam menunjang munculnya kenakalan anak. Dibawah ini beberapa faktor yang menunjang munculnya kenakalan anak.

ü  Favouritism.
Anak yang dari kelas sosial tertentu (anak kongklomerat, anak pejabat, anak orang penting lainnya) tampak lebih favorit. Kondisi semacam ini dapat merangsang munculnya kenakalan anak.

ü  Konflik antar kelas sosial dalam masyarakat)

ü  Tension in time of war, partition, and other naturalcalamity.
Ketika ada perang, bencana alam maka muncul ketegangan. Kondisi ketegangan ini berkemungkinan besar kenakalan anak meningkat tinggi


E.     PENCEGAHAN  KENAKALAN ANAK

Pencegahan bisa dilakukan dengan cara mengembangkan kerjasama di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Misalnya kerjasama di rumah maka seluruh anggota keluarga diharapkan dapat membantu membangun sikap, kebiasaan, sistim nilai pada anak. Sebagian besar kenakalan anak disebabkan karena penanganan yang salah dari orangtuanya. Misalnya orangtua yang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak mempunyai cukup waktu untuk memperhatikan anaknya. Fungsi orangtua diambil alih oleh pembantu rumah tangga atau social worker meskipun anak diberi fasilitas rekreasi, bimbingan individual dan suasana aman namun fungsi orangtua tidak digantikan seratus persen.

Walter dan Erikson (1969) memberikan contoh bahwa sekolah dapat mencegah munculnya kenakalan anak dengan cara sbb :

1). Menciptakan suasana emosional di sekolah.
      Di sekolah perlu diciptakan suasana emosional yang baik dan dijauhkan dari adanya ketegangan-ketegangan emosional
2). Sekolah perlu memberikan fasilitas untuk aktifitas kurikuler.
3).  Para guru dianjurkan untuk berperilaku yang baik agar bisa ditiru (dicontoh) oleh anak-anak.
4). Perlu disusun kurikulum yang sesuai.
      Minat dan kebutuhan anak sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum.
5). Perlu dibentuk perpustakaan sekolah yang dilengkapi dengan buku -buku yang menarik bagi anak-anak dan perlu diciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya kebiasaan membaca bagi anak-anak.

F.      TERAPI ANAK-ANAK NAKAL
Terapi kenakalan anak antara lain dengan cara reedukasi, abreaction, persuasi, sugesti, terapi lingkungan, modifikasi perilaku.

a). Reedukasi
Anak diberi informasi tentang problem-problem yang sering di hadapi anak misalnya masalah hubungan dalam keluarga, masalah pergaulan, masalah sex, dst.

b). Abreaction
Abreaction artinya memberi kesempatan pada anak untuk mengekspresikan keterkurungannya, penyembunyian emotional-feeling­-nya dengan memakai assosiasi bebas melalui diskusi. Konselor bertindak menjadi figur orangtua yang dipercaya anak. Selain assosiasi bebas tehnik lain (psychodrama atau play techniques) boleh digunakan.

c). Persuasi (pembujukan)
Konselor membujuk anak nakal agar dimasa mendatang tidak melakukan kenakalan lagi.

d). Sugesti
Kita setuju bahwa setiap orang bisa disugesti. Usia anak-anak akan lebih mudah disugesti dari pada usia dewasa. Sugesti disini diberikan untuk menguatkan super ego anak-anak nakal. Super ego ini berfungsi sebagai rambu-rambu terhadap tindakan kenakalanya.

e). Terapi lingkungan

Terapi lingkungan biasanya dilakukan untuk memperbaiki lingkungan rumah, lingkungan sekolah dsb. Orangtua disarankan untuk merubah sikap & perilaku mereka. Sikap dan perilaku orangtua yang berubah akan menghasilkan perubahan lingkungan sosial, lingkungan keluarga yang berubah menjadi baru bagi anak sehingga anak akan memulai hidupnya yang baru yang lebih segar.

f). Memodifikasi perilaku
Anak nakal itu tidak dilahirkan tetapi produk (bentukan) dari pengaruh lingkungan sosialnya. Oleh karena itu perilaku anti sosial dapat dipelajari kembali dengan perilaku yang baru yang tidak anti sosial. Anak dapat belajar kembali berperilaku yang dapat diterima oleh lingkungan sosialnya. Beberapa tehnik memodifikasi perilau antara lain :



(1)  Menentukan perilaku yang diinginkan
(2) Memastikan penguat yang paling efektif (Misalnya uang,    kendaraan, pakaian, makanan atau lainnya).
(3) Memastikan lakon perilaku subyek masa lalu dan lakon perilaku subyek masa sekarang (masa lalu untuk memperoleh penguat maka dilakukan dangan cara mencuri, masa mendatang untuk memperoleh penguat maka perlu dilakukan dangan cara bekerja)
(4) Aplikasi modifikasi lakon sesuai dengan hasilnya (menginginkan ken daraan dengan cara mencuri jika tertangkap bisa dihajar masa atau masuk penjara, tetapi jika dengan bekerja maka gajinga bisa dipakai untuk mengangsur kridit kendaraan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thank you