SNOW


TUD'S EDUCATION

Minggu, 20 November 2011

psikologi timur



A.  Psikologi Timur dan Teori-Teori Kepribadian Barat
Diantara para teoretikus kepribadian modern, C.G. Jung mungkin adalah orang yang sangat tahu mengenai psikologi-psikologi Timur. Ia adalah sahabat Heinrich Zimmer seorang ahli India dan ahli tentang mandala, suatu motif dasar dalam banyak kesenian suci dari Timur. Jung menulis berbagai karya D.T. Suzuki dan Richard Wilhem, penerjemah kitab I Ching dan teks-teks lainnya yang berisi ajaran Tao dari China. Selain itu Jung menulis ulasan-ulasan atas karya-karya terjemahan Evans Wentz, The Tibetan Book of the Great Liberation dan The Tibetan Book of the Dead, dua karya penting dalam ikhtisar psikologi dari Buddhisme di Tibet. Teman dan tetangga Jung, Hirman Hesse, menyebarkan pikiran Timur melalui novelnya, Siddharta dan Journey to the East. Jung sampai pada hal-hal yang asing bagi ilmu pengetahuan positivistis lewat analisisnya yang ekstensif mengenai agama-agama timur. Meskipun ia juga diperingatan akan bahaya seorang Barat tenggelam dalam tradisi-tradisi Timur, namun tulisan-tulisannya merupakan jembatan utama antara psikologi-psikologi Timur dan psikologi-psikologi Barat.
Medard Boss, seorang ekstensialis Swiss yang berpengaruh, pernah diundang ke India untuk memberi pengarahan tentang psikiatri dan disana ia bertemu dengan orang-orang India. Terapi-terapi Barat kurang mampu memberikan pemahaman yang sungguh-sungguh menerangkan dengan intensitas yang sebanding dengan metode-metode dari Timur, maka Medard Boss mencari bimbingan dari tradisi-tradisi India.
Akan tetapi, Boss kurang terkesan dengan orang-orang Barat yang dijumpainya dengan memakai pakaian orang-orang suci India. Menurut pendapatnya, mereka itu membanggakan diri dengan berbagai kebijaksanaan India. Sebaliknya, para arif-bijaksana India yang dijumpainya memberinya kesan yang sangat dalam.
Boss kembali dari pertemuan-pertemuan ini dengan keyakinan bahwa dari pandangan sudut-sudut ajaran dan tingkah laku guru-guru Timur, metode dan tujuan-tujuan psikoterapi Barat tidak memadai. Jika dibandingkan dengan tingkat pemurnian diri yang dituntut oleh latihan-latihan dari Timur, analisis latihan Barat yang paling baik pun tidak lebih daripada suatu kursus pengantar saja. 

B.     Kajian Psikologi Timur dalam Agama-agama Timur
a.      Kajian dalam psikologi Agama
Menurut robert H. Thouless, psikologi agama memusatkan kajiannya pada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi. Lapangan kajian psikologi meliputi;
1.      Mempelajari tentang berbagai macam perkembangan kejiwaan keagamaan pada setiap manusia serta sikap keberagamaan mereka.
2.      Perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya.
3.      Mempelajari, meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan.
4.      Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surga dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan.

Oleh karena itu perkembangan psikologi Timur berkaitan erat dengan perkembangan agama-agama di bagian Timur bumi seperti agama hindu di India, Budha di India, Kristen wilayah Romawi dan Islam di Arab.

b.      Agama Hindu
1.      Sejarah Singkat Agama Hindu
Agama Hindu adalah agama yang berkembang pesat di India dengan usia yang paling panjang diantara agama lainnya. Agama hindu telah melahirkan kebudayaan yang kompleks di bidang astronomi, ilmu filsafat dan ilmu-ilmu lainnnya. Karena luas dan terlalu mendetailnya jangkauan dan pemaparan dari agama hindu, kadang terasa sulit untuk dipahami, sehingga para ahli-pun belum dapat memastikan dan menemukan kesepakatan dalam menentukan kapan tepatnya agama Hindu diwahyukan.
Pada hakekatnya agama hindu di india mempunyai empat fase yakni zaman waeda, zaman brahmana, zaman upanesad, dan zaman budha. Zaman waeda dimulai pada waktu bangsa arya berada di pujab di lembah sungai sindu, sekitar 2500-1500 tahun sebelum masehi. Pada zaman brahmana, kekuasaan kaum brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan. Kitab brahmana adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Pada zaman Upanisad lebih meningkat pada pengetahuan batin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Pada zaman ini muncul ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa, dan Purana.
Sebagian besar pengetahuan kuno India berasal dari kitab Veda, yang merupakan sekumpulan pelajaran, hymne, puisi, dan prosa yang dikompilasikan dari pengajian lisan, empat kitab Veda masih bertahan, yakni :

1. Rig-Veda : berisi hymne-hymne pemujaan
2. Sama-Veda : berisi pengetahuan tentang melodi
3. Yajur-Veda : berisi ritual pengorbanan
4. Atharva-Veda : berisi hal-hal magis (Magics)

Tiap kitab Veda terbagi dalam empat sektor, yakni : Mantras (hymne), Brahmanas (doa-doa ritual), Aranyaka (teks khusus untuk pertapa) dan Upanishads (kajian untuk para filsuf).
Rig-Veda mungkin adalah yang paling populer sebagai literatur karena memuat banyak hymne dan puisi pemujaan pada berbagai objek ibadah, matahari, bulan, angin, fajar dan api. Ketidakpercayaan pada kemampuan intelektual dan pengetahuan indrawi menjadi topik yang dominan, sebagai pencarian atas pengendalian diri, kesatuan, dan pengetahuan universal. Proses pencapaian tujuan ini melibatkan penumpahan segala ilmu, partisipasi, bahkan kesadaran partikular yang hanya berlangsung sebentar saja.
Dugaan untuk mewujudkan tujuan tersebut disebut Atman yang menggambarkan jiwa dari segala jiwa. Atman juga sebagai karakter yang tak berbentuk, sangat tersembunyi, sebuah definisi teraplikasi pada intisari individual, sehingga dikatakan kita bukanlah mind, body atau keduanya tetapi kita impersonal, netral dan menyerap realitas.

2.      Psikologi Timur dalam Pendidikan Agama Hindu
Pendidikan agama hindu adalah usaha yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan anak dalam menyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama hindu. Apabila dikaji tentang makna pendidikan mengandung pengertian mengantarkan anak ke tingkat dewasa, atau kedewasaan baik jasmani maupun rohani. Pendidikan agama hindu sangat erat kaitannya dengan psikologi agama dalam menangani berbagai kasus yang membentuk krisis moral. Dengan demikian kedua ilmu ini akan memberikan kontribusi yang menanamkan konsep nilai dan norma. Dalam agama hindu manusia sejak dilahirkan telah membawa potensi keberagamaan dan potensi ini baru dalam bentuk sederhana, yaitu berupa kecendrungan untuk mengabdi kepada sesuatu. Dan didalam agama hindu pendidikan dilakukan pada saat sebelum bayi (pranatal) dilahirkan dan sesudah bayi dilahirkan. Jika kita mencoba mengaitkan antara psikologi agama dengan salah satu pembagian daripada Panca Srada yaitu percaya dengan adanya Moksa yang adalah kebebasan dengan ikatan keduniawian dari belenggu Karma Pala dari Samsara. Pendekatan psikologi dalam pendidikan agama Hindu telah ada sejak dulu, dan mempunyai sejarah yang cukup tua. Hal ini dapat dibuktikan dari naskah-naskah hindu kuno, seperti kitab suci weda, upanisad, ramayana, dan maha brata.
Psikologi Hindu tampak jelas pada zaman Upanishads karena Upanishads lebih menekankan pada kebijaksanaan ajaran Hindu dalam kaitannya manusia dengan dunianya dan memakai metode spriritual yang menyelamatkan kita dari terlepasnya ikatan antara particular dan material. Perpindahan esensi manusia dipandang sebagai hukuman atas kehidupan iblis dan reinkarnasi merupakan jalan pelepasan ikatan tersebut. Dengan menghilangkan keinginan individual melalui kehidupan pertapa, kita dapat keluar dari individualisme dan terserap kembali ke dalam kesatuan menyeluruh dari “Yang Ada” (Being) .
Tujuan-tujuan yang diungkapkan dalam Upanishads mengarahkan pada psikologi yang sangat bertentangan dengan dasar filosofis ajaran Barat. Namun lambat laun Upanishads mengakui bahwa individu menegaskan dirinya sendiri sebagai proses adaptasi dan perkembangan yang sempurna.
Implikasi penting filsafat Hindu dalam psikologi :
1. Individu memiliki karakteristik sebagai bagian dari kesatuan yang lebih besar.
2. Penegasan individualitas dipandang bukan hanya berarti bagi dirinya sendiri, tapi lebih kepada sebuah aktivitas yang diminimalkan dan dihindari.
3. Penekanan pada humanisme yang berdasar pada konsep dasar Hindu.

c.       Agama Budha
1.      Sejarah Singkat Agama Budha
Sejarah agama Budha dimulai dari abad ke-6 sebelum masehi sampai sekarang dari lahirnya sang Budha Sidharta Gautama di India. India India menjadi sebuah storehouse pengetahuan-pengetahuan yang mendalam dan bervariasi.
Budha adalah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Selama masa ini, agama ini sementara berkembang, unsur kebudayaan india, ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Helenistik (Yunani), asia tengah, asia timur dan asia tenggara. Dalam proses perkembangannya ini, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia. Sejarah agama Budha juga ditandai dengan perkembangan banyak aliran dan mazhab, serta perpecahan-perpecahan. Yang utama diantaranya adalah aliran tradisi Theravada, Mahayana dan Vajrayana (Bajrayana) yang sejarahnya ditandai dengan masa pasang dan surut.

2.      Kajian Agama Budha dengan Psikologi Timur
Filsafat yang mendasari psikologi di India terekspresikan dalam enam sistem, yaitu :
1. The Nyaya System (argumen/alasan), metode investigasi dan berpikir di India, tujuan utamanya mencapai Nirvana, menggunakan silogisme bahwa ilmu dapat membimbing individu untuk membebaskan diri.
2. The Vaisheshika System, menyatakan bahwa kenyataan merupakan komposisi dari atom dan kehampaan.
3. The Sankhya System, sistem tertua yang mengidentifikasikan 25 realitas yang menyokong dunia. Tubuh diskemakan secara terperinci sebagai substansi yang mengandung intelektualitas, kemampuan indrawi, mind, organ perasaan dan tindakan. Jiwa (spirit) digambarkan sebagai seorang manusia, prinsip fisik yang memberi substansi sebuah kehidupan, bersifat universal dan plural, bukan individual.
4. The Yoga System, membebaskan tubuh manusia dari hasrat/nafsu badaniah dan pengetahuan indrawi melalui kekuatan supernatural dengan jalan meditasi.
5. The Purva-Mumansa System, menggunakan mind untuk mensari kebenaran.
6. The Vendanta System, merupakan perluasan kitab Veda yang menyatakan prisnsip pertamanya bahwa Tuhan dan jiwa (soul) adalah suatu kesatuan, merngaplikasikan ajarannya pada pencarian insight, keterbukaan, disiplin diri dan keinginan untuk menemukan kesatuan dan kebahagiaan dalam Tuhan.

Perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat selama kurun waktu satu abad terakhir membuat sebagian umat budha mempertanyakan kondisi sebenarnya agama budha dalam pandangan sains. Agama budha mempunyai peranan besar dalam bidang psikologi karena agama budha dikatakan sebagai sains mengenai pikiran. Agama budha digunakan dalam studi seperti terapi gangguan tidur, penyembuhan terhadap pemikiran dan bentuk-bentuk mental yang negatif, pemahaman terhadap proses terjadinya mimpi, tidur, dan proses kematian oleh banyak neurosientist dan psokoterapist terkemuka.

d.      Agama Kristen
1.      Sejarah Singkat Agama Kristen
Agama Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasar pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama ini meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia yang dapat menebus manusia dari dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Agama Kristen termasuk salah satu dari agama Abrahamik yang berdasarkan hidup, ajaran, kematian dengan penyaliban, kebangkitan, dan kenaikkan Yesus dari Nazaret ke Surga. Kekristenan adalah monotheisme, yang percaya akan tiga pribadi  (dalam bahasa Yunani Hipostasis) Tuhan atau Tritunggal. Tritunggal pertama kali pada Konsili Nicea Pertama yang dihimpun oleh Kaisar Romawi Konstantin I. Kata Kristen sendiri memiliki arti “pengikut Kristus atau pengikut Yesus”.
Dalam kepercayaan Kristen Yesus Kristus adalah pendiri gereja dan kepemimpinan gereja yang abadi. Umat Kristen juga percaya bahwa Yesus Kristus akan datang pada kedua kalinya sebagai Raja dan Hakim di dunia ini.

2.      Kajian Agama Kristen dengan Psikologi Timur
The Cristian of Assosiation for Psychological Studies (CAPS) menyatakan bahwa ada kesulitan bahwa tidak menemukan teori yang jelas mengenai kekristenan.  Mereka menyatakan bahwa semua kebenaran adalah milik Tuhan

e.       Agama Islam
1.      Sejarah Singkat Agama Islam
Islam berawal pada tahun 1622 pada saat wahyu pertama diturunkan pada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira, Arab Saudi. Nabi Muhammad di lahirkan di mekah pada Tahun Gajah yaitu 570 Masehi. Muhammad saw dikenal sebagai pemuda as-Sidiq dan istri pertamanya adalah Khadijah. Wahyu pertama didapatkannya ketika berusia empat puluh tahun. Jazirah arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang dilewati jalur sutra. Kebanyakan bangsa Arab merupakan penyembah berhala dan sebagian merupakan pengikut kristen dan Yahudi. Setelah kematian Nabi Muhammad saw kerajaan Islam berkembang hingga samudra Atlantik dan Asia Tengah di Timur. Kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti Ummayah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, dan Kekhalifahan Ottomon, Kemaharajaan Mughal, India dan Kesultanan Melakan telah menjadi kerajaan yang besar di dunia.
Kembali ke sejarah masa lalu ada tiga corak pendekatan dalam memahami dua manusia. Pertama, pendekatan Qur’ana-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwal kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pelit, korup, gelisah, mudah frustasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu, hidup merana, dan mati menyesal di akhirat masuk neraka), dan beberapa karakter jiwa : yang selalu menyuruh berbuat jahat, yang senantiasa dan yang tenang damai. 

2.      Kajian Agama Islam dengan Psikologi Timur
Psikologi Islam adalah sebuah kajian yang baru dikenbangkan di awal tahun 60-an. Kajian ini bermula dari usaha Dr. Zakiah Drajat yang mulai mengenalkan psikologi dari tinjauan agama. Namun pada tahun 1994, para peminat psikologi Islam akhirnya dikumpulkan dan munculah kesepakatan untuk menamakan pengetahuan baru tersebut dengan nama psikologi Islam.         
Pada dasarnya, psikologi Islam lebih mengarah pada pendekatan kajian sains dengan kajian ilmu agama, yang secara spesifiknya adalah mendekatkan kajian psikologi pada umumnya dengan kajian Al-Qu’an. Dengan demikian maka dipahami bahwa landasan filsafat ilmu dari psikologi Islam adalah konsep manusia menurut Al-Qur’an.
Perkembangan psikologi Islam dapat dikatakan cukup baik, dilihat dari makin meningkatnya jumlah tenaga pengajar ataupun mahasiswa yang tertarik mendalami bidang pengetahuan yang terbilang cukup baru. Tujuan dikembangkannya psikologi Islam adalah untuk mempertahankan kesehatan mental dan keimanan dalam diri individu. Kajian ini menitikberatkan pada dimensi spiritual dikarenakan dimensi ini merupakan sumber dari potensi, bakat, sifat, dan kualitas dari manusia. Bahkan, dimensi ini merupakan suatu dimensi yang tak pernah tergoyang walaupun pemiliknya sedang sakit secara fisik maupun psikis.

C.    Perkembangan Psikologi di beberapa Negara Timur
a.      Jepang
Jepang telah menjadi pemimpin dari penelitian Psikologi dan jurnal Jepang menyediakan sebuah penghargan dan bagian yang tak terhingga nilainya dari dasar Psikologi. Penemuan model barat dari pemeriksaan psikologi di Jepang biasanya memperhitungkan Yujiro Motiva (1858-1912) sebagai psikolog eksperimental Jepang pertama. Ia menjadi profesor di bidang psikologi yang pertama di Jepang di Universitas Tokyo dan mendirikan laboratorium di sana. Ia melanjutkan penelitian bahwa ia maengawalinya dengan Hall pada kepekaan dermal. Matataro Matsumoto (1865-1943) pergi ke Leipzig untuk bekerja dengan Wundt dan kembali ke Jepang pada tahun 1980. Ia mendirikan departemen psikologi dan laboratorium di Universitas Kyoto. Matsumoto merujuk pada sistem psikologinya sebagai psikosinematik atau pekerjaan mental yang berupa sebuah tipe dari kontrol psikofisiologikal dimana ia belajar secara eksperimental kondisi dari kekuatan mental melebihi gerakan tubuh. Kwanichi Tanaak (1882-1962) instrumental dalam memperkenalkan behaviorisme Watson di Jepang. Tanaka mempublikasikan tipe dari metode objektif yang diusulkan oleh Watson. Koichi Matsude (1883-1947) mengusulkan versi awal dari kognisi hewan denganh interpretasinya tentang tingkah laku hewan pada tingkat kesadaran. Ryo Kuroda (1890-1947) berargumentasi bahwa tingkah laku dan kesadaran adalah 2 hal dari pengalaman yang sama dan lebih bersifat komplemen daripada kontradikti. Psikologi Gestalt diperkenalkan oleh Kanae Sakuma (1888-1970) yang menerima pendidikan inisialnya di Jepang dan kemudian belajar di Berlin pada tahun 1925 dan 1926. Hiroshi Hayami memperkenalkan tradisi fenomenologikal dari Husserl yang menyediakan lebih banyak akses langsung kepada pengalaman. Shoma Morita (1874-1938) beargumen bahwa reaksi dan perhatian yang tak pantas terhadap tingkah laku neurotik sering membesar-besarkan masalah dan hasil pada masa-masa ganas. Morita menawarkan alternatif therapeutik yang dipinjam dari Zen Buddhism. Zen bersifat antirasionalistik, tapi itu mencari jejak ilmu pengetahuan dengan intuisi dan interpretasi daripada kepercayaan pada tulisan tradisional Budha. Tujuan dari teori Morita adalah mencari harmoni dengan alam semesta, tidak berperang atau menentang alam semesta. Morita menjelaskan ada 4 tingkat prosedur dimulai pada kecemasan pasien dan berakhir pada persiapan pasien untuk mengembalikan keberadaan tiap harinya. Model itu dikembangkan lebih lengkap pada psikologi Zen oleh Koji Sato (1905-1971) aslinya dipengaruhi oleh Psikologi Gestalt, lalu Sato beralih pada psikoanalisis dan Psikologi klinis. Teknik meditasi Zen menggunakan adaptasi fisikal di perawakan dan pernapasan untuk menerima ketenangan dan kejernihan melalui realisasi harmoni dan integrasi dari individu dan alam semesta.
b.      India
Pada tahun 1916 di Universitas Calcuta, N.N Sangupta menjadi profesor pertama di Departemen Psikologi dan kemudian ia pergi ke Lucknow di India utara, dimana ia memulai laboratorium Psikologi pada tahun 1929. Pada tahun 1925, Universitas Mynsore juga menawarkan kurikulum Psikologi. Masyarakatr Psikoanalitik India dibangun pada tahun 1922, diikuti tiga tahun kemudian oleh sebuah organisasi yaiut Asosiasi Psikologi India yang menerbitkan Indian Journal of Psychology. Beberapa tahun kemudian muncullah yoga sebagai aplikasi dari Psikologi itu sendiri. Yoga adalah sebuah filsafat dominan dari India kuno, dari Upanishad. Yoga adalah sebuah sistem dari disip[lin diri dalam refleksi yang digunakan unutk menbantu seseorang mengumpulkan ilmu pengetahuan. Seperti yang diajarkan filsuf pertama Patanjali (150 SM) pada Yoga-Sutras-nya, tujuan dari yoga adalah mencari kebebasan diri dari semua konteks mental. Psikolog telah memperlihatkan yoga dalam jangka waktu dari indikasinya untuk terapi tingkah laku, kontrol psikofisiologikal dan perkembangan kognitif.

c.       China
Laboratorium penelitian psikologi pertama didirikan di Universitas Beijing (Peking) pada tahun 1917, dan Departemen Psikologi yang berdiri sendiri pertama didirikan di Universitas Nanking.Asosiasi Psikologi Cina dimulai pada tahun1921 dengan Zhang Yaoxiang sebagai presiden pertama. Jurnal Psikologi berisi ringkasan dari pekerjaan eksperimen Amerika terkini. Ketika Jepang diserang 5 provinsi di Cina utara bermula pada 1937, semua kegiatan penelitian dihentikan. Kontak dengan barat benar-benar berakhir, dan usaha awal untuk kebangkitan kembali psikologi dipengaruhi olehpenasihat Soviet yang cenderung mengusulkan model dari refleksologi. The Chinese Academy of Sciences didirikan kembali pada tahun 1950 dan tahun 1956 Institut of Psychologycal Research didirikan di bawah bagian akademi biologi, yang mungkin merefleksikan pengaruh dari penasihat soviet tersebut. Pada tahun 1955 The Chinese Psychological Asasociation didirikan kembali dengan Pan Shu sebagai presidennya. Kesadaran sebagai area belajar telah dihukum sebagai perantara kelas dan penelitian psikologi telah dicela sebagai metafisikal dan borjuis.

D.    Pengaruh penting Psikologi Timur
Walaupun psikologi-psikologi Timur banyak menaruh perhatian pada alam kesadaran dan hukum-hukum yang mengatur perubahannya, psikologi ini juga mengandung teori-teori kepribadian yang cukup jelas. Tujuan dari psikologi-psikologi Timur adalah mengubah kesadaran seseorang agar mampu melampaui batas-batas yang diciptakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang membentuk kepribadian orang itu. Dalam hal ini, setiap tipe kepribadian perlu mengatasi hambatan-hambatan yang berbeda untuk membebaskan diri dari batas-batas ini.  
Pengaruh penting Psikologi Timur terhadap sejarah perkembangan Psikologi secara umum dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
1.      Pemikiran, tradisi intelektual dan religius Daerah Timur yang terkadang lebih kompleks dan bervariasi daripada Dunia Barat membawa kemajuan yang baru bagi perkembangan intelektual, yang kemudian diwujudkan dengan penemuan-penemuan kembali tulisan-tulisan kuno oleh ilmuwan-ilmuwan Daerah Timur.
2.      Ketertarikan terhadap filsuf-filsuf kuno maupun modern dari Asia dan sistem kepercayaannya, hingga sekarang semakin memperluas dan mempertanyakan asumsi-asumsi di balik studi tentang human process.
Disamping itu, pendekatan psikologi-psikologi Asia didasarkan pada introspeksi dan pemeriksaan diri sendiri yang menuntut banyak energi, berbeda dengan psikologi-psikologi Barat yang lebih bersandar pada observasi tingkah laku.
 Setiap kutipan oleh Gardner dan Louis Murphy (1968) dari kitab-kitab suci Asia, memberikan semacam wawasan psikologis, baik suatu pandangan tentang bagaimana jiwa bekerja, suatu teori kepribadian, ataupun suatu model motivasi. Kendati mengakui adanya perbedaan-perbedaan diantara psikologi-psikologi Asia tersebut, namun Gardner dan Louis Murphy (1968) menyimpulkan bahwa psikologi-psikologi itu pada hakikatnya merupakan suatu reaksi terhadap kehidupan yang dilihat sebagai penuh dengan penderitaan dan kekecewaan. Cara umum untuk mengatasi penderitaan yang dianjurkan oleh psikologi-psikologi ini adalah disiplin dan kontrol diri, yang dapat memberikan kepada orang yang mengupayakannya “suatu perasaan ekstase yang tak terbatas dan hanya dapat ditemukan dalam diri yang bebas dari pamrih-pamrih pribadi”. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa, minat psikologis  di Timur dan Barat “berpadu dengan sangat cepat”.
Selain itu, Alan Watts dalam ”Psychotherapy East and West” (1961) mengakui bahwa apa yang disebutnya “cara-cara pembebasan Timur” adalah mirip dengan psikoterapi Barat, yakni bahwa keduanya bertujuan mengubah perasaan-perasaan orang terhadap dirinya sendiri serta hubungannya dengan orang-orang lain dan dunia alam. Sebagian besar terpai-terapi Barat menangani orang-orang yang mengalami gangguan; sedangkan disiplin-disiplin Timur menangani orang-orang yang normal dan memilih penyesuaian sosial yang baik. Meskipun demikian, Watts melihat bahwa tujuan dari cara-cara pembebasan itu cocok dengan tujuan terapeutik sejumlah teoritikus, khususnya individuasi dari Jung, aktualisasi diri dari Maslow, otonomi fungsional dari Allport, dan diri yang kreatif dari Adler.
Setelah itu, Richard Alpert atau yang lebih dikenal dengan Ram Dass pun berpendapat bahwa meditasi dan latihan-latihan rohani lainnya dapat menghasilkan jenis perubahan kepribadian terapeutik yang tidak dapat dihasilkan oleh obat-obat bius. Ia juga menekankan pada pentingnya pertumbuhan rohani, dan kekosongan hidup jika dijalani tanpa kesadaran rohani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thank you