SNOW


TUD'S EDUCATION

Minggu, 20 November 2011

PSIKOLOGI EKSISTENSIALISME

Merupakan sebuah aliran psikologi yang berakar pada beragam karya-karya filosofis di paro kedua abad 19, khususnya Soren Kierkegaard dan Friedrich Nietzche. Namun, yang perlu disadari adalah keduanya memiliki pola pemikiran yang sangat bertolak belakang. Kierkegaard tertarik untuk merstorasi kedalaman iman dalam agama-agama yang telah mengering di tengah masyarakat Copenhagen kala itu. Sedangkan Nietzche terkenal dengan pernyataannya “Tuhan telah mati”.
Hanya saja, perbedaan keduanya tidak sebesar perbedaan mereka dengan para filsuf terdahulu. Mereka mendekati filsafat dari sudut pandang manusia nyata, manusia yang terlibat dalam berbagai tantangan hidup. Keduanya yakin bahwa eksistensi manusia tidak bisa dibakukan ke dalam sistem rasional, baik yang religius maupun filosofis.
Eksistensialisme berbeda dengan pendekatan-pendekatan psikologis yang positivistik. Bila pada positivistik,mereka berusaha keluar dari subjektivitas dan melihat sesuatu sebagaimana adanya. Tapi kaum eksistensialis percaya bahwa kita tidak pernah bisa keluar dari subjektivitas. Kita tidak bisa memisahkan subjektivitas dengan objektivitas, karena mereka terkait satu sama lain.
Kaum eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji. Baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untuk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap pengalaman, dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan filsafat, teori, atau keyakinan kita.
Eksistensialis menjadi terkenal karena keyakinannya bahwa hidup itu sulit. Dunia fisik mampu memberi kita kesengsaraan sebagaimana juga memberi kita kesenangan. Dunia sosial menggiring kita pada kekecewaan dan kesepian sebagaimana juga membuat kita bahagia karena cinta dan kasih sayang dari orang lain.
Secara ringkas, psikologi eksistensialisme memberikan penekanan tentang perlunya berada sedekat mungkin dengan dunia yang dijalani dan dialami dalam keseharian. Tak perlu menggunakan teori, statistik, reduksi atau eksperimen. Hal yang perlu diutamakan adalah mengetahui apa yang sedang kita bicarakan.
Namun, psikologi eksistensialisme tidak terlalu diakui sebagai sebuah metode riset. Hal ini disebabkan psikologi eksistensialis dianggap tidak ilmiah. Tidak memiliki hipotesis atau statistik. Tidak bergantung pada variabel dependen atau independen.
Selain itu, sering terjadi salah penafsiran karena berbagai istilah-istilahnya berasal dari tradisi filsafat yang hanya akrab dengan para filosof, bukan psikolog. Hal ini masih dipersulit lagi karena beberapa istilahnya berasal dari bahasa Jerman dan Prancis yang sangat sulit dicari padanannya dalam bahasa Inggris.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thank you